Sabtu, 26 Oktober 2013

Makalah Askeb Patologi Oligohidramnion





Askeb Patologi Oligohidramnion





DAFTAR ISI


Halaman Judul........................................................................................................         i     
Kata Pengantar.......................................................................................................        ii
Daftar Isi         ........................................................................................................       iii
BAB I : PENDAHULUAN ..................................................................................        1
                        1.1  Latar Belakang ..............................................................................        1
                        1.2  Tujuan............................................................................................        1
                        1.3  Rumusan Masalah .........................................................................        1
BAB II : PEMBAHASAN ...................................................................................        2
                  2.1 Definisi oligohidramnion................................................................        2
                  2.2 Etiologi oligohidramnion ...............................................................        3
                  2.3 Patofisiologi oligohidramnion  .......................................................        4
            2.4 Wanita dengan kondisi berikut memiliki insiden oligohidramnion
yang tinggi ........................................................................................     5
                  2.5 Gambaran klinis dari oligohidramnion............................................        5
                  2.6 Pemeriksaan penunjang oligohidramnion.......................................        6
                           2.7 Penatalaksanaan oligohidramnion...................................................        6
                  2.8 Prognosis dan komplikasi dari oligohidramnion ............................        6
BAB III : PENUTUP ............................................................................................        7
                  3.1 Kesimpulan ....................................................................................        7
                  3.2 Saran...............................................................................................        7
Daftar Pustaka........................................................................................................          8






BAB I
PENDAHULUAN



1.1  LATAR BELAKANG

Amnion manusia terdiri dari lima lapisan yang berbeda. Lapisan ini tidak mengandung pembuluh darah maupun saraf, sehingga nutrisi disuplai melalui cairan amnion. Lapisan paling dalam dan terdekat pada fetus ialah epithelium amniotik. Epitel amniotik ini mensekresikan kolagen tipe III dan IV dan glikoprotein non kolagen ( laminin , nidogen dan fibronectin ) dari membrane basalis, lapisan amnion disebelahnya.
Oligohidramnion mengacu pada defisiensi besar volume cairan amnion. Berkurangnya volume cairan amnion dapat menimbulkan hipoksia janin sebagai akibat dari kompresi taki pusat karena gerakan janin atau kontraksi rahim. Selain itu, lintasan mekonium janin ke dalam volume cairan amnion yang tereduksi menghasilakan suatu suspensi tebal dan penuh pertikel yang dapat menyebabkan ganguan pernapasan janin.
Oligohidramnion perlu digolongkan sesuai dengan etiologinya. Oligohidramnion berhubungan dengan keterbelakangan pertumbuhan dalam rahim dan pada 60 persen kasus. Bila dihungakan dengan bukti ultrasonic keterbelakangan pertumbuhan asimetrik, gangue janin sangat mungkin terjadi, kasus-kasus itu yang diakibatkan oleh ruptura membaran janin yang spontan mungkin tidak berhubungan dengan gangguan janin sebelumnya. Oligohidramnion mungkin terjadi sebagai akibat tekanan janin in utero ; sekresi hormone penekan janin (katekolamin, vasopressin) dapat menghambat resopsi cairan paru-paru lewat penelanan oleh janin. Akhirnya, terdapat kasus yang berhubungan dengan berbagai Janis cacat janin, misalnya sindroma Potter (agenesis ginjal), yang butuh pemeriksaan ultarsonik dan genetic secara rinci.


1.2  RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan oligohidramnion?
2.      Apa penyebab dari oligohidramnion ?
3.      Bagaimana patofisiologi oligohidramnion ?
4.      Wanita dengan insiden oligohidramnion ?
5.      Bagaimana Gambaran Klinis dari oligohidramnion ?
6.      Bagaimana Pemeriksaan penunjang oligohidramnion ?
7.      Bagaimana Penatalaksanaan oligohidramnion ?
8.      Bagaimana Prognosis dan komplikasi dari oligohidramnion ?


1.3  TUJUAN
1.      Mengetahui definisi dari oligohidramnion
2.      Mengetahui penyebab oligohidramnion
3.      Mengetahui patofisiologi dari oligohidramnion
4.      Mengetahui wanita dengan insiden oligohidramnion
5.      Mengetahui gambaran klinis dari oligohidramnion
6.      Mengetahui Bagaimana Pemeriksaan penunjang dari oligohidramnion
7.      Mengetahui Bagaimana Penatalaksanaan oligohidramnion
8.      Mengetahui Bagaimana Prognosis dan komplikasi dari oligohidramnion




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1  DEFINISI
Oligohidramnion adalah jumlah cairan amnion yang terlalu sedikit. Saat kehamilan cukup bulan, jumlah cairan amnion adalah sekitar 300 – 500 ml, tetapi jumlah tersebut dapat berfariasi dan bahkan dapat lebih sedikit dari jumlah tersebut. Ketika didiaknosis pada pertengahan pertama kehamilan, kelainan ini sering berkaitan denga agenesis renal (tidak adanya ginjal) atau sindro potter, yaitu bayi juga menderita hipoplasia pulmoner.
Oligohidramnion kadang terjadi pada kehamilan lebih bulan dan diyakini berkaitan insufisiensi plasenta. Jika fungsi plasenta berurang ,perfusi ke sistem organ janin juga akan berkurang, termasuk ke ginjal. Penurunan pembentukan urin janin menyebapkan oligohidramnion karena komponen utama cairan amnion adalah urin janin. (Buku Ajar Bidan MYLES, Ed. 14)
 
            Marks dan divon 1992 menemukan oligohidramnion yang didefinisikan sebagai indeks cairan amnion sebesar 5 cm atau kurang pada 12% dari 511 kehamilan berusia 41 minggu atau lebih. Pada 121 wanita yang diteliti secara longitudinal, terjadi penurunan rata – rata indeks cairan amnion sebesar 25 % per minggu setelah 41 minggu. Akibat berkurangnya cairan, resiko kompresi tali pusat, dan pada gilirannya gawat janin, meningkat pada semua persalinan, tetapi terutama pada kehamilan postterem (grubb dan paul, 1992:leveno dkk.1984).
(OBSTETRI WILLIAM Ed.21 vol 2 :915)

           Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal,yaitu kurang dari 500cc. Oligohidramnion adalah keadaan jika air ketuban kurang dari 500cc. Oligohidramnion adalah suatu keadaaan dimana air ketuban sangat sedikit yakni kurang dari normal, yaitu kurang dari 500cc. Ada beberapa definisi oligohidramnion yang dipakai, diantaranya :
* Berkurangnya volume air ketuban (VAK)
* Volumenya kurang dari 500 cc saat usia 32-36 minggu
* Ukuran satu kantong (kuadran) < 2 cm
* Amniotic fluid index (AFI) < 5 cm atau < presentil kelima


2.2  ETIOLOGI
Oligohidramnion berkaitan dengan kelainan ginjal janin, trisomi 21 atau 13, atau hipoksia janin. Penyebab rendahnya cairan ketuban seperti dikutip dari Americanpregnancy.org, adalah:
a. Adanya masalah dengan perkembangan ginjal atau saluran kemih bayi yang menyebabkan produksi air seninya sedikit, hal ini akan membuat cairan ketuban rendah.
b.   Adanya masalah pada plasenta, karena jika plasenta tidak memberikan darah dan nutrisi yang cukup untuk bayi akan memungkinkan ia untuk berhenti mendaur ulang cairan.
c.       Ada kebocoran atau pecahnya dinding ketuban yang membuat air ketuban keluar dari rahim.
d.      Usia kehamilan sudah melewati batas, hal ini menyebabkan turunnya fungsi plasenta yang membuat cairan ketuban berkurang.
e.  Adanya komplikasi pada sang ibu, misalnya dehisrasi, hipertensi, pre-eklamsia, diabetes dan hipoksia kronis.

Selain itu, penyebab Oligohidramnion dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
1.      Fetal :
·         Kromosom
·         Kongenital
·         Hambatan pertumbuhan janin dalam rahim
·         Kehamilan postterm
·         Premature ROM (Rupture of amniotic membranes)
2. Maternal :
·         Dehidrasi
·         Insufisiensi uteroplasental
·         Preeklamsia
·         Diabetes
·         Hypoxia kronis
3. Induksi Obat :
·         Indomethacin and ACE inhibitors Idiopatik 


2.3  PATOFISIOLOGI

Fisiologi  Normal :
AFV meningkat secara bertahap pada kehamilan dengan volume sekitar 30 mL pada kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya sekitar 1 L pada kehamilan 34-36 minggu. AFV menurun pada akhir trimester pertama dengan volume sekitar 800 mL pada minggu ke-40. Berkurang lagi menjadi 350 ml pada kehamilan 42 minggu; dan 250 ml pada kehamilan 43 minggu. Tingkat penurunan sekitar 150 mL/minggu pada kehamilan 38-43 minggu.
Mekanisme perubahan tingkat produksi AFV belum diketahui dengan pasti, meskipun diketahui berhubungan dengan aliran keluar-masuk cairan amnion pada proses aktif. Cairan amnion mengalami sirkulasi dengan tingkat pertukaran sekitar 3600 mL/jam.
3 faktor utama yang mempengaruhi AFV :
·         Pengaturan fisiologis aliran oleh fetus
·         Pergerakan air dan larutan didalam dan yang melintasi membran
·         Pengaruh maternal pada pergerakan cairan transplasenta

Patofisiologi :
Secara umum, oligohidramnion berhubungan dengan :
Ruptur membran amnion / Rupture of amniotic membranes (ROM)
Gangguan congenital dari jaringan fungsional ginjal atau obstructive uropathy :
·         Keadaan–keadaan yang mencegah pembentukan urin atau masuknya urin ke kantung amnion
·         Fetal urinary tract malformations, seperti renal agenesis, cystic dysplasia, dan atresia uretra
Reduksi kronis dari produksi urin fetus sehingga menyebabkan penurunan perfusi renal
·         Sebagai konsekuensi dari hipoksemia yang menginduksi redistribusi cardiac output fetal
·         Pada growth-restricted fetuse, hipoksia kronis menyebabkan kebocoran aliran darah dari ginjal ke organ-organ vital lain
·         Anuria dan oliguria
Postterm gestation
·         Penurunan efisiensi fungsi plasenta, namun belum diketahui secara pasti
·         Penurunan aliran darah ginjal fetus dan penurunan produksi urin fetus


2.4  Wanita dengan kondisi berikut memiliki insiden oligohidramnion yang tinggi.
1. Anomali kongenital (misalnya : agenosis ginjal, sindrom patter).
2. Retardasi pertumbuhan intra uterin.
3. Ketuban pecah dini (24-26 minggu).
4. Sindrom paska maturitas.
           

Gambar

2.5  Gambaran Klinis
1. Uterus tampak lebih kecil dari usia kehamilan dan tidak ada ballotemen.
2. Ibu merasa nyeri di perut pada setiap pergerakan anak.
3. Sering berakhir dengan partus prematurus.
4. Bunyi jantung anak sudah terdengar mulai bulan kelima dan terdengar lebih jelas.
5. Persalinan lebih lama dari biasanya.
6. Sewaktu his akan sakit sekali.
7. Bila ketuban pecah, air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada yang keluar.

2.6  Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang biasa dilakukan:
·         USG ibu (menunjukkan oligohidramnion serta tidak adanya ginjal janin atau ginjal yang sangat abnormal)
·         Rontgen perut bayi
·         Rontgen paru-paru bayi
·         Analisa gas darah

2.7   Penatalaksanaan:
Tindakan Konservatif :
a.       Tirah baring.
b.      Hidrasi.
c.       Perbaikan nutrisi.
d.      Pemantauan kesejahteraan janin ( hitung pergerakan janin, NST, Bpp ).
e.       Pemeriksaan USG yang umum dari volume cairan amnion.
f.       Amnion infusion.
g.      Induksi dan kelahiran
Penatalaksanaan bergantung pada usia kehamilan :
a.       Pre-term          : mengevaluasi dan memonitor keadaan fetal dan maternal agar tetap dalam kondisi optimal.
b.      Aterm              : persalinan.
c.       Post-term         : Persalinan


2.8  Prognosis dan Komplikasi
Prognosis :
a.       Semakin awal oligohidramnion terjadi pada kehamilan, semakin buruk prognosisnya
b.      Jika terjadi pada trimester II, 80-90% mortalitas
Komplikasi :
a.       Congenital malformations
b.      Pulmonary hypoplasia
c.       Fetal compression syndrome
d.      Amniotic band syndrome
e.       Abnormal fetal growth or IUGR
f.       Decreased fetal blood volume, renal blood flow, and subsequently, fetal urine output
g.      Fetal morbidity
Akibat Oligohidramnion :
a.       Bila terjadi pada permulaan kehamilan maka janin akan menderita cacat bawaan dan pertumbuhan janin dapat terganggu bahkan bisa terjadi partus prematurus yaitu picak seperti kertas kusut karena janin mengalami tekanan dinding rahim.
b.      Bila terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut akan terjadi cacat bawaan seperti club-foot, cacat bawaan karena tekanan atau kulit jadi tenal dan kering ( lethery appereance )



BAB III
PENUTUP

3.1  KESIMPULAN
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal, yaitu kurang dari 500 cc. VAK (Volume Air Ketuban) meningkat secara stabil saat kehamilan, volumenya sekitar 30 cc pada 10 minggu dan mencapai puncaknya 1 Liter pada 34-36 minggu, yang selanjutnya berkurang. Rata-rata sekitar 800 cc pada akhir trisemester pertama sampai pada minggu ke-40. Berkurang lagi menjadi 350 ml pada kehamilan 42 minggu, dan 250 ml pada kehamilan 43 minggu. Tingkat penurunan sekitar 150 ml/minggu pada kehamilan 38-43 minggu.
Oligohidramnion juga dapat menyebabkan terhentinya perkembangan paru-paru (paru-paru hipoplastik), sehingga pada saat lahir, paru-paru tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pada sindroma Potter, kelainan yang utama adalah gagal ginjal bawaan, baik karena kegagalan pembentukan ginjal (agenesis ginjal bilateral) maupun karena penyakit lain pada ginjal yang menyebabkan ginjal gagal berfungsi.


3.2  SARAN
Diharapkan kepada tenaga kesehatan agar memberikan penyuluhan kepada masayarakat tentang oligohidramnion.




DAFTAR ISI


Leveono l,Cuningham F,dkk. 2009. OBSTETRI WILLIAMS. Jakarta :EGC

Fraser Diane M, Cooper M.A. 2009. BUKU AJAR BIDAN MYLES. Jakarta EGC

Cunningham F.G.,dkk. 2005. OBSTETRI WILIAMS. Jakarta:EGC 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE PADA DEWASA A.      DEFINISI ·          Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau t...