Minggu, 15 Desember 2013

Asuhan Neonatus, Bayi,Balita dan Anak Prasekolah dengan "Hipospadia"



Asuhan Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Prasekolah
HIPOSPADIA


KATA PENGANTAR


Puji syukur penyusun ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayahnya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “HIPOSPADIA”
Tidak lupa penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada :
1. Lina Ratnawati, S.ST, selaku dosen  pembimbing kami
2.Teman teman yang sudah berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini
Makalah ini disusun guna memberikan informasi kepada para mahasiswa tentang    HIPOSPADIA” serta guna memenuhi tugas yang telah dibebankan.
           Kami menyadari bahwa dalam Makalah ini masih terdapat kekurangan, untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan Makalah  ini sangat kami harapkan.
Akhirnya, semoga Makalah ini berguna bagi kita semua.



Kediri, November 2013

Penyusun
                                  




  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang.................................................................................. ...... 1
B.Rumusan Masalah.................................................................................... 1
C.Tujuan Penulis.......................................................................................... 2
D.Batasan Masalah ................................................................................          2
E.Metode Penulisan ..............................................................................        2
BAB II PEMBAHASAN
A.Definisi Hipospadia................................................................................. 3
B.Etiologi..................................................................................................... 4
C.Klasifikasi................................................................................................. 5
D.Patofisiologi ......................................................................................        7
E.Insiden Hipospadia ...........................................................................        7
F.Tanda dan Gejala Hipospadia ...........................................................         7
G.Diagnosis ..........................................................................................        8
H.Penatalaksanaan ................................................................................        9
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan............................................................................................ 12
B.Saran....................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA




Bab I
Pendahuluan 

      A. Latar Belakang
Hipospadia merupakan kelainan abnormal dari perkembangan uretra anterior dimana muara dari uretra terletak ektopik pada bagian ventral dari penis proksimal hingga glands penis. Muara dari uretra dapat pula terletak pada skrotum atau perineum. Semakin ke proksimal defek uretra maka penis akan semakinmengalami pemendekan dan membentuk kurvatur yang disebut “chordee’’.
Ahli bedah dari Yunani Heliodorus dan Antilius, pertama-tama yang melakukan penanggulangan untuk hipospadia. Dilakukan amputasi dari bagian penis distal dari meatus. Selanjutnya cara ini diikuti oleh Galen dan Paulus dari Agentia pada tahun 200 dan tahun 400. Kemudian Duplay memulai era modern pada bidang ini pada tahun 1874 dengan memperkenalkan secara detail rekonstruksi uretra. Sekarang, lebih dari 200 teknik telah dibuat dan sebagian besar merupakan multi-stage reconstruction, yang terdiri dari  first emergency stage untuk mengoreksi  stenotic meatus jika diperlukan dan second stage untuk menghilangkan chordee dan recurvatum, kemudian pada third stage yaitu urethroplasty.
Beberapa masalah yang berhubungan dengan teknik multi-stage yaitu membutuhkan operasi yang multiple, sering terjadi meatus tidak mencapai ujung glands penis. Sering terjadi striktur atau fistel uretra, dan dari segi estetika dianggap kurang baik. Pada tahun 1960, Hinderer memperkenalkan teknik one- stage repair  untuk mengurangi komplikasi dari teknik  multi-stage repair . Cara ini dianggap sebagai rekonstruksi uretra yang ideal dari segi anatomi danfungsionalnya, dari segi estetik dianggap lebih baik, komplikasi minimal, dan mengurangi social cost.

     B.  Rumusan Masalah
1.      Apakah definisi hipospadia?
2.      Apa sajakah penyebab-penyebab hipospadia?
3.      Apa sajakah klasifikasi hipospadia?
4.      Bagaimana patofisiologi hipospadia ?
5.      Bagaimana insiden hipospadia ?
6.      Apa sajakah tanda dan gejala hipospadia ?
7.      Bagaimana diagnosis hipospadia ?
8.      Bagaimana penatalaksanaan hipospadia ?
 
      C. Tujuan Penulis
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui, memahami dan mempelajari serta dapat menjelaskan pengertian hipospadia, etiologi, klasifikasi, patofisologi, insiden, tanda dan gejala, diagnosis, serta pentalaksanaan hipospadia.

       D. Batasan Masalah
Adapun batasan-batasan dalam pembuatan makalah ini adalah hanya menjelaskan tentang pengertian hipospadia, etiologi, klasifikasi, patofisologi, insiden, tanda dan gejala, diagnosis, serta pentalaksanaan hipospadia.

   
      E. Metode Penulisan
Adapun metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah metode studi pustaka dan metode browsing internet.













Bab II
Pembahasan
A.    Definisi Hipospadia
Hipospadia berasal dari dua kata yaitu hypo yang berarti di bawah dan spadon yang berarti keratan yang panjang dan merupakan salah satu kelainan bawaan pada anak-anak yang sering ditemukan dan mudah untuk mendiagnosanya. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan dimana meatus uretra eksterna berada di bagian permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal (ujung glanss penis). Dengan kata lain hipospadia merupakan kelainan dimana lubang uretra berada di bagian bawah dekat pangkal penis. (http://www.bedah-plastik.com/hypospadia.html)
Sebagaian besar anak dengan kelainan hipospadia memiliki bentuk batang penis yang melengkung. Biasanya di sekitar lubang kencing abnormal tersebut terbentuk jaringan ikat (fibrosis) yang bersifat menarik dan mengerutkan kulit sekitarnya. Jika dilihat dari samping, penis tampak melengkung seperti kipas (chordee), secara spesifik jaringan parut di sekitar muara saluran kencing kemudian disebut chordee. Akan tetapi tidak setiap hipospadia memiliki chordee.
Seringkali anak laki-laki dengan hipospadia juga memiliki kelainan berupa testis yang belum turun sampai kekantung kemaluannya (undescended testis). Hipospadia merupakan kelainan bawaan yang jarang ditemukan, dengan angka kekerapan 1 kasus hipospadia pada setiap 250-400 kelahiran bayi laki-laki hidup.
Beratnya hipospadia bervariasi, kebanyakan lubang uretra terletak didekat ujung penis, yaitu pada glans penis. Bentuk hipospadia yang lebih berat terjadi jika lubang uretra terdapat ditengah batang penis atau pada pangkal penis, dan kadang pada skrotum (kantung zakar) ataudibawah skrotum. (http://yullcandra.blogspot.com)

     B Etiologi
Hipospadia merupakan hasil dari fusi yang tidak lengkap dari lipatan uretra terjadi pada usia kehamilan pada minggu ke 8 dan ke 14. Diferensiasi seksual laki-laki pada umumnya tergantung pada hormone testosteron, dihydrotestosteron, dan ekspresi reseptor androgen oleh sel target. Gangguan dalam keseimbangansistem endokrin baik faktor-faktor endogen atau eksogen dapat menyebabkanhipospadia. Indikasi untuk beberapa faktor risiko lain juga telah dilaporkan. Namun, etiologi hipospadia masih belum diketahui. (Brouwers, 2006).
1.      Metabolisme Androgen
Diferensiasi seksual yang normal tergantung pada testosteron dan metabolismenya bersamaan dengan kehadiran reseptor androgen fungsional. Gangguan genetik dalam jalur metabolisme androgen dapat menyebabkan hipospadia. Meskipun kelainan dalam metabolism androgen dapat menyebabkan hipospadia yang berat, namun tidak dapat menjelaskan etiologi terjadinya hipospadia yang sedang dan ringan. (Baskin, 2000)
 2.      Gangguan Endokrin
Salah satu penyebab hipospadia disebabkan adanya kontaminasi lingkungan, dimana dapat mengintervensi jalur androgen yang normal dandapat mengganggu sinyal seluler. Hal ini dapat diketahui dari beberapa bahan yang sering dikonsumsi oleh manusia yang banyak mengandung aktivitas ekstrogen, seperti pada insektisida yang sering digunakan untuk tanaman, estrogen alami pada tumbuhan, produk-produk plastik, dan produk farmasi. Selain itu, banyak bahan logam yang digunakan untuk industry makanan, bagian dalamnya dilapisi oleh bahan plastic yang mengandung substansi estrogen. Substansi estrogen juga dapat ditemukan pada air laut dan air segar, namun jumlahnya hanya sedikit. Ketika estrogen tersebut masuk ke dalam tubuh hewan, jumlah estrogen paling tinggi berada pada puncak rantai makanan, seperti kain besar, burung, mamalia laut dan manusia, sehingga menyebabkan kontaminasi estrogen yang cukup besar. Pada beberapa spesies, kontaminasi estrogen dapat mempengaruhi fungsi reproduksi dan kesehatan. Sebagai contoh, terjadi penipisan kulit telur karena pengaruh estrogen. (Baskin, 2000)
3.      Faktor Genetik
Usia ibu saat melahirkan dapat menjadikan salah satu faktor resiko terjadinya hipospadia. Sebuah langsung korelasi terlihat antara usia ibu yang tua dapat meningkatkan kejadian hipospadia, dan lebih ditandai dengan bentuk parah dari cacat lahir. (Fisch, 2001)
4.     Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan danzat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.
Hipospadia sering disertai kelainan penyerta yang biasanya terjadi bersamaan pada penderita hipospadia. Kelainan yang sering menyertai hipospadia adalah :

                  1. Undescensus testikulorum (tidak turunnya testis ke skrotum)
                  2.  Hidrokel 
                  3. Mikophalus / mikropenis
4.    Interseksualitas.


       C.     Klasifikasi
Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/meatus :
1.      Tipe Sederhana/Tipe Anterior
Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. Pada tipe ini, meatus teletak pada pangkal glands penis. Secara klinis, kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi.


      2.      Tipe penil/Tipe Middle
Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-escrotal. Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan scrotum. Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini, diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat kulit di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan bedah selanjutnya.

 

      3.        Tipe Posterior
Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini, umunya pertumbuhan penis akan terganggu, kadan disertai dengan scrotum bifida, meatus uretra terbuka lebar, dan umumnya testis tidak turun.


        D. Patofisiologi
1.      Hipospadia terjadi karena tidak lengkapnya perkembangan uretra dalam utero.
2.      Hipospadia dimana lubang uretra terletak pada perbatasan penis dan skrotum.
3.      Hipospadia adalah lubang uretra bermuara pada lubang frenum, sedang lubang frenumnya tidak terbentuk, tempat normalnya meatus urinarius ditandai pada glans penis sebagai celah buntu.

      E.   Insiden Hipospadia
Hipospadia terjadi kurang lebih pada 1 dari 250 kelahiran bayi laki-laki di Amerika Serikat. Pada beberapa negara insiden hipospadia semakin meningkat. Laporan saat ini, terdapat peningkatan kejadian hipospadia pada bayi laki-laki yang lahir premature, kecil untuk usia kehamilan, dan bayi dengan berat badan rendah. Hipospadia lebih sering terjadi pada kulit hitam daripada kulit putih, dan pada keturunan Yahudi dan Italia.

      F.      Tanda dan Gejala
1.      Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah penis
2.      Penis melengkung ke bawah
3.      Penis tampak seperti berkerudung karena kelainan pada kulit depan penis
4.      Jika berkemih, anak harus duduk
5.      Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus
6.      Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis
7.      Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga ke glands penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar
8.      Kulit penis bagian bawah sangat tipis
9.      Tunika Dartos, Fasia Buch dan Korpus Spongiosum tidak ada.
10.  Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glands penis
11.  Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok
12.  Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum)
13.  Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.

      G.    Diagnosis
Diagnosis hipospadia biasanya jelas pada pemeriksaan inspeksi. Kadang-kadang hipospadia dapat didiagnosis pada pemeriksaan ultrasound prenatal. Jika tidak teridentifikasi sebelum kelahiran, maka biasanya dapat teridentifikasi pada pemeriksaan setelah bayi lahir. Pada orang dewasa yang menderita hipospadia dapat mengeluhkan kesulitan untuk mengarahkan pancaran urine. Chordee dapat menyebabkan batang penis melengkung ke ventral yang dapat mengganggu hubungan seksual. Hipospadia tipe perineal dan penoscrotal menyebabkan penderita harus miksi dalam posisi duduk, dan hipospadia jenis ini dapat menyebabkan infertilitas. Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu urethtroscopy dan cystoscopy untuk memastikan organ-organ seks internal terbentuk secara normal. Excretory urography dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya abnormalitas kongenital pada ginjal dan ureter.
Diagnosis bisa juga ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik. Jika hipospadia terdapat di pangkal penis, mungkin perlu dilakukan pemeriksaan radiologis untuk memeriksa kelainan bawaan lainnya.Bayi yang menderita hipospadia sebaiknya tidak disunat. Kulit depan penis dibiarkan untuk digunakan pada pembedahan. Rangkaian pembedahan biasanya telah selesai dilakukan sebelum anak mulai sekolah. Pada saat ini, perbaikan hipospadia dianjurkan dilakukan sebelum anak berumur 18 bulan. Jika tidak diobati, mungkin akan terjadi kesulitan dalam pelatihan buang air pada anak dan pada saat dewasa nanti, mungkin akan terjadi gangguan dalam melakukan hubungan seksual.

     H.    Penatalaksanaan
            Penatalaksanaan hipospadia adalah dengan jalan pembedahan. Tujuan prosedur pembedahan pada hipospadia adalah:
1.      Membuat penis yang lurus dengan memperbaiki chordee.
2.      Membentuk uretra dan meatusnya yang bermuara pada ujung penis(Uretroplasti).
3.      Untuk mengembalikan aspek normal dari genitalia eksterna (kosmetik). Pembedahan dilakukan berdasarkan keadaan malformasinya. Pada hipospadia glanular uretra distal ada yang tidak terbentuk, biasanya tanpa recurvatum, bentuk seperti ini dapat direkonstruksi dengan flap lokal (misalnya, prosedur Santanelli, Flip flap, MAGPI [meatal advance and glanulo plasty], termasuk preputium plasty).
Operasi sebaiknya dilaksanakan pada saat usia anak yaitu enam bulan sampai usia prasekolah. Hal ini dimaksudkan bahwa pada usia ini anak diharapkan belum sadar bahwa ia begitu spesial, dan berbeda dengan teman-temannya yang lain yaitu dimana anak yang lain biasanya miksi (buang air seni) dengan berdiri sedangkan ia sendiri harus melakukannya dengan jongkok agar urin tidak merembes ke mana-mana. Anak yang menderita hipospadia hendaknya jangan dulu dikhitan, hal ini berkaitan dengan tindakan operasi rekonstruksi yang akan mengambil kulit preputium penis untuk menutup lubang dari sulcus uretra yang tidak menyatu pada penderita hipospadia.

Tahapan operasi rekonstruksi antara lain:
1.      Meluruskan penis yaitu orifisium dan canalis uretra senormal mungkin. Hal ini dikarenakan pada penderita hipospadia biasanya terdapat suatu chorda yang merupakan jaringan fibrosa yang mengakibatkan penis penderita bengkok. Langkah selanjutnya adalah mobilisasi (memotong dan memindahkan) kulit preputium penis untuk menutup sulcus uretra.
2.       Uretroplasty. Tahap kedua ini dilaksanakan apabila tidak terbentuk fossa naficularis pada glans penis. Uretroplasty yaitu membuat fassana ficularis baru pada glans penis yang nantinya akan dihubungkan dengan canalis uretra yang telah terbentuk sebelumnya melalui tahap pertama.
Tidak kalah pentingnya pada penanganan penderita hipospadia adalah penanganan pascabedah dimana canalis uretra belum maksimal dapat digunakan untuk lewat urin karena biasanya dokter akan memasang sonde untuk memfiksasi canalis uretra yang dibentuknya. Urin untuk sementara dikeluaskan melalui sonde yang dimasukkan pada vesica urinaria (kandungkemih) melalui lubang lain yang dibuat olleh dokter bedah sekitar daerah di bawah umbilicus (pusar) untuk mencapai kandung kemih.

Bab III
Penutup
A.    Kesimpulan
Hipospadia adalah suatu keadaan dimana lubang uretra terdapat di penis bagian bawah, bukan di ujung penis. Hipospadia merupakan kelainan kelamin bawaan sejak lahir, terjadi jika lubang uretra terdapat di tengah batang penis atau pada pangkal penis, dan kadang pada skrotum (kantung zakar) atau di bawah skrotum.
Ada 3 tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/meatus yaitu tipe sederhana/tipe anterior, tipe penil/tipe middle, dan tipe posterior.
Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui penyebab pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa faktor yang oleh para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain gangguan dan ketidakseimbangan hormone, gangguan metabolisme, genetika, dan lingkungan.

B.     Saran
Untuk mencegah terjadinya hipospadia pada neonatus dari segi faktor lingkungan pada saat ibu hamil, sebaiknya ibu menghindari atau meminimalisasi paparan polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.



DAFTAR PUSTAKA

Hassan, Rusepno.(ed).1985.Ilmu Kesehatan Anak. (Ed. Ke-1).Jakarta : Infomedika

Hassaan, Rusepno.(ed).1985.Ilmu Kesehatan Anak.(Ed.Ke-3). Jakarta : Infomedika

Purnomo B.B., Uretra dan Hipospadia, Dalam Dasar-dasar Urologi, Malang, 2000 : 6,137-138

Sastrasupena H., Hipospadia, Dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta, 1995: 428-435

Sjamsuhidajat R., Hopospadia, Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi. EGC, Jakarta: 1997: 1010

Suriadi . Rita, Yuliani . 2001 . Asuhan Keperawatan Pada Anak . Jakarta : CV. Sagung Seto

Wahab, Samik.(ed). 2000. Ilmu Kesehatan Anak.(Ed. Ke-15 vol 2).Jakarta : Buku Kedokteran EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE PADA DEWASA A.      DEFINISI ·          Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau t...