Rabu, 24 April 2013

Makalah Laparoskopi



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Pada dasarnya prinsip operasi laparotomi ginekologi konvensional digunakan pada laparoskopi operatif. Disamping itu, operator laparoscopy harus berpengalaman dalam melakukan operasi melakukan operasi laparoskopi diagnostic. Oleh karena itu mereka sebelumnya harus telah mengenal dengan baik jaringan atau organ genitalia interna serta patologi tertentu lewat pandangan laparoskop.  Operator laparoskopi dituntut pula untuk terbiasa dan terlatih menggunakan berbagai alat khusus yangt telah disebutkan diatas. Operator laparoskopi juga dituntut agar terbiasa melakukan jahitan atau ikatan hemostasis pada jaringan dalam rongga pelvis dengan endoloog dan endo-suture cara ikatan luar atau dalam.
Untuk melatih hal-hal tersebut, oleh semm telah dibuat suatu model yang disebut pelvic-trainer. Dengan pelvic-trainer ini seseorang dapat melatih keterampilannya untuk melakukan hal-hal khusus tersebut diatas. Okuler laparoskop dapat dihubungkan dengan monitor, seperti ia melakukan hal yang sesungguhnya pada pasien. Bahan jaringan yang digunakan, biasanya plasenta segar dengan selaput amnionnya, yang dilekatkan didalam pelvic-trainer. Pada jaringan plasenta dan selaput amnion tersebut dapat dilakukan berbagai tindakan seperti melakukan tindakan yang sesungguhnya. Apabila hal-hal tersebut telah dikuasai dengan baik, maka ia telah siap untuk melakukan operasi laparoscopy operatif yang sesungguhnya pada pasien.
Akhirnya, sewaktu akan melakasanakan operasi laparoskopyk perlu di pertimbangkan benar-benar apakah akan menguntungkan penderita. Tindakan operasi laparoscopy juga masih mempunyai keterbatasan. Mage dan kawa-kawan mengemukakan keberhasilan dalam histerektomi hanya mencapai 75% sedangkan untuk miomektomi masih lebih kurang lagi dan mereka mengemukakan masih diperlukannya alat-alat yang lebih canggih. Hanya dengan mengandalkan penilaian ilmiah yang benar dan cermat dalam tatacara pemakaian operasi laparoskopyk teknik tersebut akan menemui harapan yang lebih cerah.


1.2.Rumusan masalah
1)      Jelaskan apa yang dimagsud dengan sejarah perkembangan laparoskopi?
2)      Jelaskan apa yang dimagsud dengan indikasi dan kontra-indikasi laparoscopy operatif?
3)      Jelaskan apa yang dimagsud dengan prosedur laparoscopy operatif?
4)      Jelaskan apa yang dimagsud dengan macam atau jenis laparoscopy operatif?
5)      Jelaskan apa yang dimagsud dengan anestesi pada laparoskopi operatif?
6)      Jelaskan apa yang dimagsud dengan robotic laparoskopi?

1.3.Tujuan Pembelajaran
1)      Mampu menjelaskan sejarah perkembangan laparoskopi?
2)      Mampu menjelaskan gan indikasi dan kontra-indikasi laparoscopy operatif?
3)      Mampu menjelaskan prosedur laparoscopy operatif?
4)      Mampu menjelaskan macam atau jenis laparoscopy operatif?
5)      Mampu menjelaskan anestesi pada laparoskopi operatif?
6)      Mampu menjelaskan robotic laparoskopi?



BAB II
PEMBAHASAN
PERSIAPAN DAN PEMERIKSAAN DIAGNOSE LAPAROSKOPY


Perkembangan yang pesat di bidang teknologi kesehatan khususnya ilmu bedah telah mendatangkan manfaat dan keuntungan yang besar bagi kehidupan manusia. Ditemukannya teknik bedah Laparoskopi atau bedah minimal invasive. misalnya, kini telah mulai menggantikan teknik-teknik konvensional, kecuali pada kasus-kasus tertentu. Laparoskopi adalah prosedur untuk melihat rongga perut melalui sebuah teleskop yang dimasukkan melalui dinding perut. Prosedur pembedahan pada laparoskopi menggunakan alat-alat yang juga dimasukkan melalui dinding perut. Melalui teleskop, prosedur pembedahan lebih jelas terlihat karena bisa dilakukan pemaparan yang lebih baik pada rongga panggul dan efek pembesaran dari teleskop. Pada bidang ginekologi (kesehatan organ reproduksi wanita),  kondisi yang dapat ditangani dengan teknik laparoskopi antara lain mioma uteri, tumor ovarium, nyeri haid, endometriosis, adenomiosis, infertilitas, sterilisasi tuba, pelengketan saluran tuba, pelengketan organ genitalia, kehamilan di luar kandungan, pengangkatan rahim atau ovarian drilling.

SEJARAH LAPAROSKOPI
Sulit menyebutkan siapa penemu alat laparoskopi pertama kali. Pada tahun 1902, Georg Keling, di Dresden, Saxony melakukan tindakan laparoskopi pertama pada anjing. Tahun 1910, Hans Christian Jacobaeus di Swedia melaporkan operasi laparoskopi dilakukan pertama kalinya terhadap manusia. Dengan ditemukannya chip komputer pada kamera TV, innovasi laparoskop lebih berkembang lagi. Dengan adanya alat ini, dapat dilakukan pembesaran lapangan operasi yang terlihat di monitor.

KEUNTUNGAN
Laparoskopi, yang merupakan revolusi besar di bidang ilmu bedah, kini banyak dipilih karena prosedurnya yang mudah serta waktu operasi yang relatif singkat dan lama pemulihan pasca operasi yang lebih singkat ketimbang konvensional. Ukuran lubang yang diperlukan untuk operasi hanya kurang lebih 0,5-1,5 cm, jauh lebih kecil dibandingkan ukuran lubang untuk operasi konvensional. Karena alasan inilah maka operasi laparoskopi disebut juga bandaid surgery atau keyhole surgery. Operasi ini disebut juga minimal invasive, karena bagian tubuh dibuka dengan sedikit sayatan saja. Alhasil, kerusakan pada jaringan tubuh dan jumlah perdarahan pun dapat diminimalisir, pasien pun dapat pulih dengan lebih cepat. Di samping itu, nyeri pasca operasi, komplikasi terhadap peristaltik usus dan luka operasi (infeksi luka operasi atau terbukanya luka operasi) juga lebih rendah. Khusus mengenai pemulihan peristaltik usus, laparoskopi memungkinkan hal ini lebih cepat terjadi mengingat organ (usus) tidak perlu dikeluarkan dari perut atau pun dipegang dokter. Peristaltik usus lebih akrab ditandai dengan buang angin pasca operasi, dan ini merupakan salah satu tanda telah pulihnya fungsi alat pencernaan. Bila bising ususnya sudah positif, pasien boleh langsung minum. Oleh karena itu, rata-rata setelah dua hari pasca operasi laparoskopi, pasien boleh pulang.

Perlengketan pasca operasi yang dapat menyebabkan nyeri berulang setelah operasi, sumbatan usus, dan infertilitas juga lebih jarang terjadi. Pasien yang sudah menjalani operasi besar apapun, kemungkinan mengalami pelengketan 20 hingga 40 persen. Hanya nanti manifesnya akan sangat tergantung kepada individu. Secara kosmetik / estetik, laparoskopi lebih unggul dibandingkan laparotomi. Bekas luka operasi relatif tidak terlihat karena kecilnya luka irisan yang dilakukan. Kemungkinan terjadinya keloid pada bekas operasi juga minimal. Transmisi mikroba amat minimal karena tidak ada kontak langsung antara organ tubuh pasien dan tangan operator. Akibatnya, kemungkinan infeksi pasca operasi dapat diminimalisir.




KERUGIAN
Biaya yang dibutuhkan untuk operasi ini relatif lebih mahal karena operasi ini memerlukan peralatan-peralatan yang canggih seperti sistim kamera, sistim lampu dsb. Selain itu operasi laparoskopi ini relatif lebih lama dibandingkan laparotomi tetapi jika dilakukan oleh seorang operator laparoskopi yang terlatih dan terampil maka lama operasi tidak berbeda jauh dengan laparotomi.
.
KEGUNAAN LAPAROSKOPI
Beberapa kegunaan laparoskopi secara umum dapat dibagi dalam dua kelompok yakni untuk mengetahui penyebab dari suatu penyakit (diagnosis) dan untuk mengatasi masalah tersebut (terapi). Sebagai alat diagnostik, laparoskopi seringkali digunakan untuk mendiagnosis penyebab dari ketidaksuburan (infertilitas), terutama untuk pasangan yang telah lama mencoba berbagai cara untuk mendapatkan anak. Penyebab infertilitas yang dapat diketahui oleh laparoskopi antara lain adalah gangguan pada saluran telur, yang bisa terjadi akibat proses perlekatan dengan daerah sekitar atau penekanan oleh tumor atau proses infeksi, adanya endometriosis (suatu penyakit yang erat kaitannya dengan infertilitas), adanya tumor kandungan atau tumor pada indung telur. Berbagai penyebab infertilitas yang dapat diatasi melalui laparoskopi antara lain adalah membebaskan saluran telur dari perlengketan atau penekanan oleh tumor, mematikan sarang-sarang endometriosis, atau mengangkat tumor kandungan/tumor pada indung telur.
Selain itu, laparoskopi juga merupakan salah satu cara untuk mengetahui dan mengatasi kehamilan di luar kandungan. Kehamilan di luar kandungan merupakan hal yang bila dibiarkan dapat membahayakan bagi penderita. Laparoskopi unggul dalam hal diagnostik karena dokter akan melihat secara langsung kelainan yang ada, di samping dapat melakukan berbagai tindakan untuk mengatasinya. Laparoskopi juga merupakan salah satu cara untuk melakukan tubektomi (seringkali dikenal sebagai penutupan kandungan), yakni bagi mereka yang telah merasa cukup memiliki anak. Pengangkatan miom / kista indung telur / kandungan sendiri juga dapat dilakukan melalui laparoskopi. Miom ukuran besarpun dapat dioperasi dengan menggunakan moselator, suatu alat untuk mengikis tumor menjadi ukuran yang lebih kecil, sehingga tumor tersebut dapat dikeluarkan melalui lubang kecil yang dibuat. Laparoskopi, di tangan ahli, dapat melakukan berbagai tindakan yang dilakukan secara laparotomi.

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI OPERASI LAPAROSKOPI
Dengan telah berkembangnya inovasi instrumentasi dan tekhnik operasi seperti  yang  telah di utarakan diatas,maka indikasi untuk melakukan operasi dengan teknik laparoskopi menjadi lebih luas.tindakan operasi diagnostik dengan hasil diagnosis yang jelas, dan yang telah didiskusikan dengan pasien sebelumnya, dapat dilanjutkan dengan tindakan operatif tertentu.
INDIKASI
Indikasi Diagnostik
·         Diagnosis diferensiasi patologi genetalia interna
·         Infertilitas primer dan atau sekunder
·         Second look operation,apabila diperlukan tindakan berdasarkan operasi sebelumnya
·         Mencari dan mengangkat translokasi AKDR.
·         Pemantauan pada saat dilakukan tindakan histeroskopi
Indikasi terapi
·         Kistektomi ,miomektomidan histerektomi
·         Hemostasis perdarahan  pada perforasi uterus akibat tindakan sebelumnya.
Indikasi operatif terhadap adneksa
·         Fimbrioplasti ,salpingostomi,salpingolisis
·         Koagulasi lesi endometriosis.
·         Aspirasi cairan dari suatu konglomerasi untuk diagnostik yang terapeutik.
·         Salpingektomi pada kehamilan ektopik
·         Kontrasepsi mantap (oklusi tuba)
·         Rekontruksi tuba atau reanastromosis tuba pascatubectomi
Indikasi operatif terhadap ovarium
·         Pungsi folikel matang pada program fertilisasi in-vitro
·         Biopsi ovarium pada keadaan tertentu( kelainan kromosom atau bawaan , curiga keganasan).
·         Kistektomi antara lain ada kista coklat( endometrioma), kista dermoid, dan kista ovarium lain
·         Ovariolisis, pada perlekatan periovarium
Indikasi operatif terhadap organ dalam rongga pelvis
·         Lisis perlekatan oleh omentum dan usus.

KONTRAINDIKASI
Kontraindikasi absolut
·         Kondisi pasien yang tidak memungkinkan dilakukannya anestesi
·         Diatese hemoragik sehingga mengganggu funsi pembekuan darah
·         Peritonitis akut terutama yang mengenai abdomen bagian atas , disertai dengan distensi dinding perut ,sebab kelainan ini merupakan kontraindikasi untuk melakukan pneumoperitonium.
Kontraindikasi relatif
·         Tumor abdomen yang sangat besar,sehingga sulit untuk memasukkan trokar kedalam rongga pelvis oleh karena trokar dapat melukai tumor tersebut
·         Hernia abdominalis, dikawatirkan dapat melukai usus pada saat memasukkan trokar ke dalam rongga pelvis, atau memperberat hernia pada saat dilakukan  pneumoperitonium.kini kekhawatiran ini dapat di hilangkan dengan modifikasi alat pneumoperitonium otomatic
·         Kelainan atau insufisiensi paru paru, jantung,hepar,atau kelainan pembuluh darah vena porta,goiter atau kelainan metabolisme lain yang sulit menyerap gas CO2.

PROSEDUR LAPAROSKOPI OPERATIF
Tiga atau lebih sayatan kecil (5-10 mm) dibuat di perut untuk memungkinkan port akses untuk dimasukkan. Para laparoskop dan instrumen bedah yang akan dimasukkan melalui port ini. Ahli bedah kemudian menggunakan laparoskopi, yang mentransmisikan gambar organ-organ perut pada monitor video, yang memungkinkan operasi untuk dilakukan. Operasi Laparoskopi usus dapat digunakan untuk melakukan operasi berikut:
1.      Proctosigmoidectomy. Operasi pengangkatan bagian rektum dan kolon sigmoid yang sakit. Digunakan untuk mengobati kanker dan pertumbuhan non-kanker atau polip, dan komplikasi diverticulitis.
2.      Right colectomy atau Ileocolectomy. Selama kolektomi kanan, sisi kanan usus besar akan dibuang. Selama ileocolectomy, segmen terakhir dari usus kecil - yang melekat pada sisi kanan usus besar, yang disebut ileum, juga dibuang. Digunakan untuk mengangkat kanker, pertumbuhan non-kanker atau polip, dan peradangan dari penyakit Crohn.
3.      Total abdominal colectomy. Operasi pengangkatan usus besar. Digunakan untuk mengobati radang borok usus besar, penyakit Crohn, poliposis familial dan mungkin sembelit.
4.      Fecal diversion. Bedah pembuatan saluran baik sementara atau permanentileostomy (pembukaan antara permukaan kulit dan usus kecil) atau (kolostomi (pembukaan antara permukaan kulit dan usus besar). Digunakan untuk mengobati masalah dubur dan dubur kompleks, termasuk kontrol buang air besar yang buruk .
5.      Abdominoperineal resection. Operasi pengangkatan anus, rektum dan kolon sigmoid.Digunakan untuk membuang kanker di rektum bawah atau di anus, dekat dengan sfingter (kontrol) otot.
6.      Rectopexy. Suatu prosedur dimana jahitan digunakan untuk mengamankan rektum pada posisi yang tepat. Digunakan untuk memperbaiki prolaps rektum.
7.      Total proctocolectomy. Ini adalah operasi usus paling luas dilakukan dan melibatkan pembuangan rektum dan usus besar. Jika ahli bedah dapat meninggalkan anus dan bekerja dengan benar, maka kadang-kadang kantong ileum dapat diciptakan sehingga Anda bisa pergi ke kamar mandi. Sebuah kantung ileum adalah ruang operasi yang dibuat terdiri dari bagian terendah dari usus kecil (ileum). Namun, kadang-kadang, suatu ileostomy permanen (pembukaan antara permukaan kulit dan usus kecil) diperlukan terutama jika anus harus dibuang, lemah, atau telah rusak.

JENIS-JENIS LAPAROSKOPY
1.      Laparoskopi histerektomi
Jenis Histerektomi yang dilakukan oleh tabung optik standar ramping yang juga dikenal sebagai laparoscopes disebut histerektomi laparoskopi. Jenis pengobatan histerektomi terdiri dari sedikit waktu untuk pemulihan dan durasi dari Operasi daripada jenis lain dari operasi yang dilakukan. Hal ini juga umumnya disukai oleh sebagian besar perempuan sebagai jenis pengobatan karena tidak berakhir memberi Anda banyak bekas luka seperti metode operasi lain.
Melalui mana prosedur laparoskopi histerektomi dilakukan?
Dasar dari histerektomi laparoskopi mulai dengan sebuah celah kecil di bawah pusar ditarik wanita. Dalam irisan ini, alat laparoskopi dikirim masuk Para dokter yang melakukan operasi kemudian melihat melalui daerah Panggul wanita itu dan memeriksanya dengan penuh perhatian dengan instrumen. Selama pemeriksaan ini dokter membuat keputusan di mana untuk melakukan pemotongan lebih tepatnya dengan instrumen ramping. Menggunakan histerektomi laparoskopi sebagai panduan operasi, bedah menghapus ini rahim dari bagian dalam tubuh wanita. rahim kemudian dibedah menjadi dua bagian. Bagian-bagian yang membedah mengukur ukuran yang sesuai untuk menghapus mereka dari perut, itu karena fakta bahwa sangat sedikit jahitan yang diperlukan dalam rangka untuk menutup sayatan dibuat dalam operasi ini.

2.      Miomektomi
Jika miom tersebut bertangkai maka tangkai tersebut dengan mudah dapat di insisi. Untuk jenis intramural, resiko perdarahan sangat besar, kadang diperlukan injeksi vasopressin untuk mempertahankan hemostasis. Jejak bekas miomektomi harus dijahit, ini sesuatu yang mutlak. Cara pengeluaran massa miom, apabila tersedia alat morselator maka dengan mudah miom dapat dikeluarkan.
Saat ini laparoskopi tidak terbukti lebih baik dari laparotomi untuk pengobatan menoragia atau infertilitas. Sebagai tambahan, ada kekhawatiran untuk resiko uterus rupture selama kehamilan lebih besar pada miomektomi dengan laparoskopi daripada laparotomi. Namun, pada tabel dibawah ini terlihat bahwa miomektomi perlaparoskopi relative lebih menguntungkan daripada miomektomi perlaparotomi

Hasil Akhir
Laparoskopi (n=20)
Laparotomi (n=20)
Kemaknaan
Kehilangan darah(ml)
200 ± 50
230 ± 44
P >0,05
Waktu operasi(menit)
100 ± 31
93 ± 27
P >0,05
Injeksi analgesic
1,9 ± 0,7
4,1 ± 1,4
P >0,05
Pasien bebas analgetik pada hari ke-2(%)
85
15
P >0,05
Pasien dipulangkan pada hari ke-3(%)
90
10
P >0,05
Pasien kembali bekerja pada hari ke-15(%)
90
5
p>0,05
  
ANESTESI PADA LAPAROSKOPI OPERATIF
Apapun jenis atau cara pemberiannya, tindakan pemberian anestesi ini tidak boleh di anggep ringan. Apabila tindakan dan cara pemberian anastesi tidak benar, dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan. Kaidah-kaidah ilmu anastesi harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh, sama halnya dengan kaidah-kaidah yang lazimnya digunakan pada operasi laparotomi.

Anastesi local
Laparoskopi operatif yang tidak memerlukan waktu lama dan intervensi yang berat, dapat dilakukan dalam anastesi local, seperti pemasangan cincin tuba atau klip tuba pada tindakkan sterilisasi. Cukup banyak keuntungan pemberian anastesi lokal ini, antara lain waktu rawat dapat dipersingkat dan efek samping yang ringan. Konsep atau istilah volonelgesia yaitu vocal,dapat berkomunikasi dengan pasien pada saat operasi ; lokal, denagn menggunakan sediaan anastesi lokal yang relative murah antara lain lidokain 0,5% 20-40 ml, untuk memati rasa kulit disekitar tusukkan trokar : volo, bahasa latin yang artinya ingin, pasien ingin sadar, terutama pada pasien yang takut tidur; dan penggunaan sediaan nuetroleptanalgesia, antara lain diazepam atau meperidim atau sejenisnya; sangat menguntungkan, aman, dan banyak digunakan dalam cara pemberian anastesia lokal pada laparoskopi operatif.
            Beberapa operator, walaupun hal ini tidak perlu benar, menyuntikkan anastesi paraservikal apabila diperlukan intervensi pada uterus, terutama sebelum memasukkan kanula manipulator uterus. Beberapa operator menyemprotkan (spay) juga anastasi lokal pada tuba, sebelum dilakukan pemasangan cincin tuba atau klip tuba. Semua cara pemberian anastesi lokal tersebut bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit, selama dan pasca operasi. Pemberian neuroleptanalgesia bertujuan untuk menghilangkan ansietas, dan juga bersifat ansedatif. Pemberian sediaan ini sebaiknya melalui intravena, yang sebelumnya telah terpasang infuse dekstrosa 5%. Dapat diberikan diazepam (valium) 5mg, dan kemudian meparidin (demoral) 25-50 mg, intravena perlahan-lahan. Apabila pemberian sediaan ini tidak didampingi oleh spesialis anastesi, dianjurkan selama operasi pemberian diazepam tidak melebihi 10 mg, dan meperidin 100 mg. Sediaan lain yang dapat digunakan antara lain fentanil yang dapat dikombinasikan dengan droperidol.apabila sediaan ini digunakan, pemantauan kardiovaskular perlu diperhatikan lebih baik dan kadang kala diperlukan pemberian oksigen bagi pasien.

Anastesi regional
Anastesi regional (kaudal, epidural, atau blok spinal), hanya digunakan apabila anastesi inhalasi merupakan kontraindikasi. Beberapa efek samping yang kurang disenangi dalam pemberian anastesi regional antara lain dapat terjadi vasodilatasi dan hipotensi yang mendadak. Cara anastesi ini untuk tindakkan laparoskopi telah banyak ditinggalkan.

Anastesi umum
Anastesi uuntuk semua operasi hanya aman apabila ditangani oleh spesialis anastesi. Anastesi umum dapat digunakan dengan kaidah-kaidah ilmu anastesi biasanya untuk tujuan laparoskopi operatif.
            Apabila digunakan kanulaendotrakheal, sebaiknya dipasang kanula nasogastri untuk mencegah distensi gaster. Pada saat pemasangan trokar, apabila terdapat distensi gaster, akan dapat melukai dindingnya. Apabila terjadi perforasi gaster yang tidak dikenal, dapat mengakibatkan abdomen akut pasca operasi. Kadangkala diperlukan pernapasan bantu (assisted respiration), terutama pada operasi laparoskopi dalam posisi trendelenburg, oleh karena diafragma mendesak paru ke atas. Hal ini yang perlu diperhatikan pada pemberian anastesi umum ialah kejadian asidosis, terutama pada oprasi yang lama, dengan menggunakan gas CO2 yang cukup banyak untuk maksud maintenance pneumoperitoneum. Dalam hal ini pemantauan kondisi kardiovaskular perlu lebih diperhatikan. Asidosis yang tidak dikoreksi dan berlangsung lama dapat mengakibatkan henti jatung (cardiac arrest).


ROBOTIK LAPAROSKOPI
Diperkenalknanya teknologi robotic dapat menjembatani gap yang ada antara laparoskopi dengan laparotomi. Terdapat tiga bentuk tehnologi robot yang digunakan pada pembedahan ginekologi. Pertama adalah automatid endoscopic system for optimal positioning (AESOP) merupakan tehnologi robot pertama yang disetujui oleh badan administrasi pangan dan obat amerika (FDA). Tehnologi robot ini dikendalikan melalui suara. Sistem robot yang kedua adalah Sistem Pembedahan Zeus yang menyediakan lapang penglihatan dua dimensi dengan pengendalian jarak jauh lengan robot pada meja oprasi. Akan tetapi, system ini sudah tidak diproduksi lagi. Sistem robot yang terakhir adalah Sistem operasi da Vinci. Alat ini dapat juga dikendalikan jarak jauh tetapi dengan lapang  pandang tiga dimensi yang asli dan dilengakapi tehnologi peredam tremor. Sistem ini memiliki keuntungan pembedahan potensial laparotomi disertai dengan keuntungan laparoskopi.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Perkembangan yang pesat di bidang teknologi kesehatan khususnya ilmu bedah telah mendatangkan manfaat dan keuntungan yang besar bagi kehidupan manusia. Ditemukannya teknik bedah Laparoskopi atau bedah minimal invasive. misalnya, kini telah mulai menggantikan teknik-teknik konvensional, kecuali pada kasus-kasus tertentu. Laparoskopi adalah prosedur untuk melihat rongga perut melalui sebuah teleskop yang dimasukkan melalui dinding perut. Prosedur pembedahan pada laparoskopi menggunakan alat-alat yang juga dimasukkan melalui dinding perut. Melalui teleskop, prosedur pembedahan lebih jelas terlihat karena bisa dilakukan pemaparan yang lebih baik pada rongga panggul dan efek pembesaran dari teleskop.