Minggu, 01 November 2015

Makalah KB Suntik Progestin



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Keluarga Berencana ( KB ) merupakan upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia, sejahtera.
Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu diakui demikian. Peningkatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami oleh wanita. Banyak wanita harus menentukan pilihan kontrasepsi yang sulit, tidak hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia tetapi juga karena metode-metode tertentu mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB, kesehatan individual dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi.
Pelayanan Keluarga Berencana yang merupakan salah satu didalam paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial perlu mendapatkan perhatian yang serius, karena dengan mutu pelayanan Keluarga Berencana berkualitas diharapkan akan dapat meningkatkan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. Dengan telah berubahnya paradigma dalam pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas menjadi pendekatan yang berfokus pada kesehatan reproduksi serta hak reproduksi. Maka pelayanan Keluarga Berencana harus menjadi lebih berkualitas serta memperhatikan hak-hak dari klien/ masyarakat dalam memilih metode kontrasepsi yang diinginkan (Prof. dr. Abdul Bari Saifuddin, 2003).
Sebenarnya ada cara yang baik dalam pemilihan alat kontrasepsi bagi ibu. Sebelumnya ibu mencari informasi terlebih dahulu tentang cara-cara KB berdasarkan informasi yang lengkap, akurat dan benar. Untuk itu dalam memutuskan suatu cara kontrasepsi sebaiknya mempertimbangkan penggunaan kontrasepsi yang rasional, efektif dan efisien.
KB merupakan program yang berfungsi bagi pasangan untuk menunda kelahiran anak pertama (post poning), menjarangkan anak (spacing) atau membatasi (limiting) jumlah anak yang diinginkan sesuai dengan keamanan medis serta kemungkinan kembalinya fase kesuburan (ferundity).
Dari 61,4 persen pengguna metode kontrasepsi di Indonesia, sebanyak 31,6 persen menggunakan suntik. Sedangkan yang memakai pil hanya 13,2 persen, memakai IUD (Intra Uterine Device) atau spiral 4,8 persen, implant 2,8 persen, dan kondom 1,3 persen, sisanya vasektomi dan tubektomi.
Terjadi kenaikan pemakaian metode kontrasepsi suntik dari tahun 1991 sampai 2007 lalu. Menurut survei yang dilakukan leh BKKBN tentang pengguna metode kontrasepsi suntik pada tahun 1991 hanya 11,7 persen, pada tahun 1994 menjadi 15,2 persen, 1997 menjadi 21,1 persen, 2003 menjadi 27,8 persen, dan pada tahun 2007 mencapai 31,6 persen. Kesadaran akan pentingnya alat kontrasepsi di Indonesia masih perlu ditingkatkan, selain untuk mengatur jumlah dan jarak anak, kontrasepsi juga dibutuhkan untuk mencegah terjadinya ledakan penduduk.
Efek sampingya terhadap siklus haid/menstruasi sering "tidak menyenangkan", namun tidak berbahaya dan bukan tanda kelainan/penyakit ; perubahan pola haid biasanya pada tahun pertama pemakaian yakni perdarahan bercak, dapat lama, jarang terjadi perdarahan yang banyak, tidak dapat haid (sering setelah pemakaian berulang), sering menaikkan berat badan, dapat menyebabkan (tidak pada semua akseptor) sakit kepala, nyeri payudara, "moodiness", jerawat, kurangnya libido seksual, rambut rontok.
Perlu suntikan ulangan teratur, perlu follow up (kontrol/kunjungan berkala) untuk evaluasi secara umum. Serta diperlukan konseling efek samping untuk membantu ibu mengatasi efek samping dari penggunaan suntik KB 3bulan.

1.2  TUJUAN
1.2.1        Tujuan Umum
Dapat melakukan asuhan kebidanan pada klien akseptor KB suntik progestin dengan menggunakan manajemen kebidanan menurut Varney.
1.2.2        Tujuan Khusus
a.       Dapat melakukan pengkajian pada akseptor KB suntik progestin.
b.      Dapat menetapkan diagnosa dan masalah dari hasil pengkajian.
c.       Dapat menetapkan tindakan segera.
d.      Dapat menetapkan diagnosa potensial.
e.       Dapat merencanakan asuhan kebidanan pada akseptor suntik progestin.
f.       Dapat melaksanakan asuhan kebidanan yang telah disusun.
g.      Dapat mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah dilakukan.

1.3  MANFAAT
  1. Bagi Mahasiswa
-          Mahasiswa mempunyai tanggung jawab atas tugas profesinya.
-          Mahasiswa dapat memberikan suntikan progestin.
-          Mahasiswa dapat bertindak, dapat tanggap dalam menghadapi permasalahan kebidanan.
  1. Bagi Tenaga Kesehatan
-          Bagi bidan dan tenaga kesehatan yang lainnya dapat lebih terampil dalam memberikan asuhan kebidanan terutama pada pasien KB.
  1. Bagi Masyarakat
-          Meningkatkan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil, bahagia, sejahtera.



BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1  Konsep Dasar Tentang Kontrasepsi Suntikan Progestin
2.1.1        Pengertian
Depo provera  ialah 6-alfa-medroksiprogesteron yang digunakan untuk tujuan kontrasepsi parenteral, mempunyai efek progestagen yang kuat dan sangat efektif. Obat ibi termasuk obat depot. Noristerat juga termasuk dalam golongan ini.  ( Erdjan Albar, 2006: 551)
2.1.2        Profil
a.       Sangat efektif
b.      Aman
c.       Dapat dipakai oleh semua perempuan dalam usia reproduksi
d.      Kembalinya kesuburan lebih lambat, rata-rata 4 bulan
e.       Cocok untuk masa laktasi karena tidak menekan produksi ASI. (Saifuddin, 2006: MK-41)
2.1.3        Jenis
Tersedia 2 jenis kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung progestin, yaitu:
a.       Depo Medroksiprogesteron Asetat (depoprovera), yang mengnadung 150 mg DMPA, yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntikkan intramusklar (di daerah bokong.
b.      Depo Noretisteron enantat (Depo Noristerat), yang mengandung 200 mg Noretindron nantat, yang diberikan setiap 2 bulan dengan cara disuntik intramuscular.. (Saifuddin, 2006: MK-41)
2.1.4        Cara Kerja
a.       Mencegah ovulasi
b.      Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma
c.       Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi
d.      Menghambat transportasi gamet oleh tuba.(Saifuddin, 2006: MK-41)
2.1.5        Efektivitas
Kedua kontrasepsi suntik tersebut memiliki efektifitas yang tinggi, dengan 0,3 kehamilan per 100 perempuan-tahun, asal penyuntikannya dilakukan secara teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan. (Saifuddin, 2006: MK-42)
Efektifitas Kontrasepsi Suntikan
a.       Baik DMPA maupun NET EN sangat efektif sebagai metode kontrasepsi. Kurang dari 1 per 100 – wanita akan mengalami kehamilan dalam 1 tahun pemakaian DMPA, dan 2 per 100 – wanita – per tahun pemakaian NET EN.
b.      Kontrasepsi suntikan sama efektifnya seperti POK, dan lebih efektif dari pada IUD.
c.       Dosis DMPA dengan daya kerja kontrasepsi yang paling sering dipakai -  150 mg setiap 3 bulan – adalah dosis yang tinggi. Setelah suntikan 150 mg DMPA, ovulasi tidak akan terjadi untuk minimal 14 minggu. Sehingga terdapat periode “ tenggang – waktu / waktu – kelonggaran “   ( grace period ) selama 2 minggu untuk akseptor DMPA yang disuntik ulang setiap 3 bulan.
d.      Penelitian dalam skala kecil akhir – akhir ini menemukan bahwa dosis lebih rendah dari DMPA – 100 mg sekali setiap bulan hampir sama efektifnya dengan suntukan 150 mg, dengan angka kegagalan 0.44 per 100 wanita per tahun.
      Sedangkan pemberian sekali setiap 6 bulan dengan dosis 250, 300, 400 atau 450 mg DMPA umumnya menunjukkan angka kegagalan yang sedikit lebih tinggi, 0 – 3.6 kehamilan per 100 wanita per tahun.
e.       NET EN 200 mg lebih efektif bila diberikan dalam jarak waktu yang lebih pendek. Penyuntikan sekali setiap 8 - minggu : angka kegagalan 0.4 – 1.8 per 100 wanita per 24 bulan.
Penyuntikan sekali setiap 12 minggu : angka kegagalan 6.6 per 100 wanita per 24 bulan.
f.       Masa kerja NET EN lebih singkat daripada DMPA, sehingga tidak terdapat “ tenggang-waktu / waktu-kelonggaran “ ( grace period ) untuk akseptor NET EN yang terlambat disuntik ulang. ( Hanafi, 2004; 166 )

2.1.6        Keuntungan
a.       Sangat efektif.
b.      Pencegahan kehamilan jangka panjang.
c.       Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri.
d.      Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdamapak serius terhadap penyakit jantung, gangguan pembekuan darah.
e.       Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI.
f.       Sedikit efek samping.
g.      Klien tidak perlu menyimpan obat suntik.
h.      Dapat digunakan oleh perempuan usia.
i.        Dapat digunakan oleh perempuan usia >35 tahun sampai perimenopause.
j.        Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik.
k.      Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara.
l.        Mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul.
m.    Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle cell). (Saifuddin, 2006: MK-42)

2.1.7        Keterbatasan
a.       Sering ditemukan gangguan haid, seperti:
- siklus haid yang memendek atau memanjang,
- perdarahan yang banyak atau sedikit
- perdarahan yang tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting)
- tidak haid sama sekali.
b.      Klien sangat bergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan (harus kembali untuk suntikan).
c.       Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikutnya.
d.      Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering.
e.       Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, hepatitis B virus, atau infeksi virus HIV.
f.       Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian.
g.      Terlambatnya kembali kesuburan bukan karena terjadi kerusakan/kelainan pada organ genetalia, melainkan karena belum habisnya pelepasan obat suntikan dari deponya (tempat suntikan).
h.      Terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang.
i.        Pada penggunaan jangka panjang dapat sedikit menurunkan kepadatan tulang (densitas).
j.        Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi (jarang), sakit kepala, nervositas, jerawat.(Saifuddin, 2006: MK-42)

2.1.8        Yang Dapat Menggunakan Kontrasepsi Suntikan Progestin
a.       Usia reproduksi.
b.      Nullipara yang telah memiliki anak.
c.       Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan yang memiliki efektivitas tinggi.
d.      Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai.
e.       Setelah melahirkan dan tidak menyusui.
f.       Setelah abortus atau keguguran.
g.      Telah banyak anak, tetapi belum menghendaki tubektomi.
h.      Perokok.
i.        Tekanan darah <180/110 mmHg, dengan masalah gangguan pembekuan darah atau anemia bulan sabit.
j.        Menggunakan obat untuk epilepsi (fenitoin dan barbiturate) atau obat tuberculosis (rifampisin).
k.      Tidak dapat memakai kontrasepsi yang mengandung estrogen.
l.        Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi.
m.    Anemia defisiensi besi.
n.      Mendekati usia menopause yang tidak mau atau tidak boleh menggunakan pil kontrasepsi kombinasi. (Saifuddin, 2006: MK-43)

2.1.9        Yang Tidak Boleh Menggunakan Kontrasepsi Suntikan Progestin
a.       Hamil atu dicurigai hamil (risiko cact pada janin 7 per 100.000 kelahiran).
b.      Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya.
c.       Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid, terutama amenorea.
d.      Menderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara.
e.       Diabetes mellitus disertai komplikasi..(Saifuddin, 2006: MK-43)

2.1.10    Waktu mulai menggunakan kontrasepsi suntikan progestin
a.       Setiap saat selama siklus haid, asal ibu tersebut tidak hamil.
b.      Mulai hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid.
c.       Pada ibu yang tidak haid, injeksi pertama dapat diberikan setiap saat, asalkan saja ibu tersebut tidak hamil. Selama 7 hari setelah suntikan tidak oleh melakukan hubungan seksual.
d.      Ibu yang menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan ingin mengganti dengan kontrasepsi suntikan. Bila ibu telah menggunakan kontrasepsi hormonal sebelumnya secara benar, dan ibu tersebut tidak hamil, suntikan pertama dapat segera diberikan. Tidak perlu menunggu sampai haid berikutnya datang.
e.       Bila ibu sedang menggunakan jenis kontrasepsi jenis lain dan ingin menggantinya dengan jenis kontrasepsi suntikan yang lain lagi, kontrasepsi suntikan yang akan diberikan dimulai pada saat jadwal kontrasepsi suntikan sebelumnya.
f.       Ibu yang menggunakan kontrasepsi nonhormonal dan ingin menggantinya dengan kontrasepsi hormonal, suntikan pertama kontrasepsi hormonal yang akan diberikan dapat segera diberikan, asal saja ibu tersebut tidak hamil, dan pemberiannya tidak perlu menunggu haid berikutnya datang. Bila ibu disuntik setelah hari ke-7 haid, ibu tersebut selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual.
g.      Ibu ingin menggantikan AKDR dengan kontrasepsi hormonal, suntikan pertama dapat diberikan pada hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid, atau dapat diberikan setiap saat setelah hari ke-7 siklus haid, asal saja yakin ibu tersebut tidak hamil.
h.      Ibu tidak haid atau ibu dengan perdarahan tidak teratur. Suntikan pertama dapat diberikan setiap saat, asal saja ibu tersebut tidak hamil, dan selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual..(Saifuddin, 2006: MK-43-MK-44)

2.1.11    Cara Penggunaan Kontrasepsi Suntikan
a.       Kontrasepsi suntikan DMPA diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik intramuskular dalam di daerah pantat. Apabila suntikan diberikan terlalu dangkal, penyerapan kontrasepsi suntikan akan lambat dan tidak bekerja segera dan efektif. Suntikan diberikan setiap 90 hari. Pemberian kontrasepsi suntikan Noristerat untuk 3 injeksi berikutnya diberikan setiap 8 minggu. Mulai dengan injeksi kelima diberikan setiap 12 minggu.
b.      Bersihkan kulit yang akan disuntik dengan kapas alkohol yang dibasahi oleh etil/isopropil alkohol 60-90%. Biarkan kulit kering sebelum disuntik. Setelah kulit kering baru disuntik.
c.       Kocok dengan baik, dan hindarkan terjadinya gelembung-gelembung udara. Kontrasepsi suntik tidak perlu didinginkan. Bila terdapat endapan putih pada dasar ampul, upayakan menghilangkannya dengan menghangatkannya. (Saifuddin, 2006: MK-45)
Teknik Penyuntikan
-          Tehnik penyuntikan sangat penting pada DMPA maupun NET EN.
-          Semua obat suntik harus diisap ke dalam alat suntiknya.
-          DMPA harus dikocok terlebih dahulu dengan baik.
-          Penyuntikan harus dilakukan dalam – dalam pada otot.
-          Jangan melakukan mesase pada tempat suntikan.
-          Kedua hal terakhir ini sangat penting karena kalau tidak ditaati, maka pelepasan obat dari tempat suntikan akan . ( Hanafi, 2004 ; 168 )

2.1.12    Informasi Lain yang Perlu Disampaikan
a.       Pemberian kontrasepsi suntikan sering menimbulkan gangguan haid (amenorea). Gangguan haid ini biasanya bersifat sementara dan sedikit sekali mengganggu kesehatan.
b.      Dapat terjadi efek samping seperti peningkatan berat badan, sakit kepala, dan nyeri payudara. Efek-efek samping ini jarang, tidak berbahaya, dan cepat hilang.
c.       Karena terlambat kembalinya kesuburan, penjelasan perlu diberikan pada ibu usia muda yang ingin menunda kehamilan, atau bagi ibu yang merencanakan kehamilan berikutnya dalam waktu dekat.
d.      Setelah suntikan dihentikan, haid tidak segera datang. Haid baru datang kembali pada umumnya setelah 6 bulan. Selama tidak haid tersebut dapat saja terjadi kehamilan. Bila setelah 3-6 bulan tidak juga haid, klien harus kembali ke dokter atau empat pelayanan kesehatan untuk dicari penyebab tidak haid tersebut.
e.       Bila klien tidak dapat kembali pada jadwal yang telah ditentukan, suntikan dapat diberikan 2 minggu sebelum jadwal. Dapat juga suntikan diberikan 2 minggu setelah jadwal yang ditetapkan, asal saja tidak terjadi kehamilan. Klien tidak dibenarkan melakukan hubungan seksual selama 7 hari. Bila perlu dapat juga menggunakan kontrasepsi darurat.
f.       Bila klien, misalnya, sedang menggunakan salah satu kontrasepsi suntikan dan kemudian meminta untuk digantikan dengan kontrasepsi suntikan yang lain, sebaiknya jangan dilakukan. Andaikata terpaksa juga dilakukan, kontrasepsi yang akan diberikan tersebut diinjeksi sesuai jadwal suntikan dari kontrasepsi hormonal yang sebelumnya.
g.      Bila klien lupa jadwal suntikan, suntikan dapat segera diberikan, asal saja diyakini ibu tersebut tidak hamil. (Saifuddin, 2006: MK-45)

2.1.13    Peringatan Bagi Pemakai Kontrasepsi Suntikan Progestin
a.       Setiap terlambat haid harus dipikirkan adanya kemungkinan kehamilan. Nyeri abdomen bawah yang berat kemungkinan gejala kehamilan ektopik terganggu.
b.      Timbulnya abses atau perdarahan tempat injeksi.
c.       Sakit kepala migrain, sakit kepala berulang dan berat, atau kaburnya penglihatan.
d.      Perdarahan berat yang 2 kali lebih panjang dari masa haid atau 2 kali lebih banyak dalam satu periode masa haid. (Saifuddin, 2006: MK-46)

2.1.14    Penanganan Gangguan Haid
a.      Amenorea
·         Tidak perlu dilakukan tindakan apapun. Cukup konseling saja.
·         Bila klien tidak dapat menerima kelainan haid tersebut, suntikan jangan dilanjutkan. Anjurkan pemakaian jenis kontrasepsi yang lain.
b.      Perdarahan
·         Perdarahan ringan atau spotting sering dijumpai, tetapi tidak berbahaya.
·         Bila perdarahan/spotting terus berlanjut atau setelah tidak haid, namun kemudian terjadi perdarahan, maka perlu dicari penyebab perdarahan tersebut. Obatilah penyebab perdarahan tersebut dengan cara yang sesuai. Bila tidak ditemukan penyebab terjadinya perdarahan, tanyakan apakahg klien masih ingin melanjutkan suntikan, dan bila tidak, suntikan jangan dilanjutkan lagi, dan carikan kontrasepsi jenis lain.
·         Bila ditemukan penyakit radang panggul atau penyakit akibat hubungan seksual, klien perlu diberi pengobatan yang sesuai dan suntikan dapat terus dilanjutkan.
·         Bila perdarahan banyak atau memanjang (lebih dari 8 hari) atau 2 kali lebih banyak dari perdarahan yang biasanya dialami pada siklus haid normal, jelaskan bahwa hal tersebut biasa terjadi pada bulan pertama suntikan.
·         Bila gangguan tersebut menetap, perlu dicari penyebabnya dan bila ditemukan kelainan ginekologik, klien perlu diobati dan dirujuk.
·         Bila perdarahan yang terjadi mengancam kesehatan klien atau klien tidak dapat menerima hal tersebut, suntikan jangan dilanjutkan lagi. Pilihlah jenis kontrasepsi yang lain. Untuk mencegah anemia perlu diberi preparat besio dan anjurkan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi..(Saifuddin, 2006: MK-46)

2.2  Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Kontrasepsi Suntik Kombinasi
2.2.1        Pengkajian
Data Subjektif
1.      Biodata
Dapat digunakan oleh perempuan usia lebih dari 35 tahun sampai perimenopause. (Saifuddin, 2006: MK-42)
Yang dapat menggunakan kontrasepsi suntikan progestin :
·         Usia reproduksi
·         Mendekati usia menopause yang tidak mau atau tidak boleh menggunakan pil kontrasepsi kombinasi. (Saifuddin, 2006: MK-43)
2.      Keluhan utama
Sering ditemukan gangguan haid, seperti :
·         Siklus haid yang memendek atau memanjang
·         Pendarahan yang banyak atau sedikit
·         Pendarahan tidak teratur atau pendarahan bercak (spotting)
·         Tidak haid sama sekali. (Saifuddin, 2006: MK-42)
·         Pendarahan yang tidak menentu
·         Terjadi amenorea (tidak datang bulan) berkepanjangan. (IBG Manuaba, 1998 : 445)
3.      Riwayat Kesehatan Sekarang
Yang dapat mengunakan kontrasepsi suntikan progestin :
·         Menggunakan obat untuk epilepsi (fenitoin dan barbitural) atau obat tuberculosis (rifampisin)
·         Anemia defisiensi besi
·         Masalah gangguan pembekuan darah dan anemia bulan sabit
Yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi suntikan progestin :
·         Menderita kanker payudara
·         Diabetes mellitus disertai komplikasi. (Saifuddin, 2006: MK-43)
·         Penyakit hati akut (virus)
·         Penyakit jantung
·         Stoke. (Saifuddin, 2006: MK-47)
4.      Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi suntikan progestin :
·         Riwayat kanker payudara
·         Diabetes mellitus. (Saifuddin, 2006: MK-43)
5.      Riwayat Kesehatan Keluarga
Dalam riwayat kesehatan keluarga perlu dikaji adanya penyakit turunan seperti hipertensi, Diabetes Melitus, kanker/keganasan, karena bias ada anggota keluarga ibu yang menderita hal yang sama. Padahal keadaaan tersebut merupakan kontradiksi untuk pemakaian kontrasepsi suntuik. (Saifuddin, 2006: MK-48)
6.      Riwayat Haid
Dalam riwayat haid perlu dikaji tentang siklus haid, jumlah perdarahan saat haid, karena efek samping dari penggunaan kontrasepsi jenis suntik adalah terjadi gangguan haid berupa spotting. Berkurangnya panjang siklus haid dan memungkinkan juga bisa terjadi amenorrea oleh karena itu bagi ibu yang memiliki riwayat haid yang banyak, sangat cocok bila menggunakan kontrasepsi suntik karena mengurangi resiko terjadinya perdarahan hebat. ( Hanafi, Hartanto, 2004 ; 169 )
7.      Riwayat Kehamilan, Persalinan Dan Nifas
Yang dapat menggunakan kontrasepsi suntikan progestin :]
·         Nullipara dan yangtelah memiliki anak
·         Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
·         Setelah melahirkan dan tidak menyusui
·         Setelah abortus atau keguguran
·         Telah banyak anak tetapi belum menghendaki tubektomi
Yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi suntikan progestin yaitu hamil atau dicurigai hamil (risiko cacat pada janin 7 per 100.000 kelahiran) (Saifuddin, 2006: MK-43)
8.      Riwayat KB
Kontrasepsi suntik dapat digunakan oleh ibu yang tidak cocok menggunakan kontrasepsi yang mengandung hormon esterogen seperti kontrasepsi oral, IUD, KB sederhana, maupun metode alamiah.( Hanafi, H, 1996; 190)
9.      Riwayat Ketergantungan
Perokok dapat menggunakan kentrasepsi suntikan progestin
10.  Riwayat Psikososial
Yang tidak boleh menggunakan kontrasepsi suntikan progestin bila tidak dapat menerima terjadinya haid, terutama amenorea.

Data Objektif
Keadaan Umum
Syarat KB suntik salah satunya adalah keadaan umum ibu harus baik, BB sekarang juga harus dikaji dan harus dijelaskan pada ibu bahwa efek samping dari kontrasepsi suntik adalah peningkatan BB 5 kg pada tahun pertama.
TTV
Jika tekanan darah <180/110 mmHg dapat menggunakan kontrasepsi suntikan progestin. (Saifuddin, 2006: MK-43)

Anthopometri
Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering. (Saifuddin, 2006: MK-42)
Pemerikasaan fisik
·         Kepala
Pada pemakaian jangka panjang dapat menimbulkan sakit kepala
·         Muka
Pada pemakaian jangka panjang dapat menimbulkan jerawat. (Saifuddin, 2006: MK-42)
·         Payudara
Nyeri payudara. (Saifuddin, 2006: MK-45)
·         Abdomen
Jika ada pembengkakan hati mungkin indikasi adanya penyakit hati. Rujuk ke spesialis. Bantu calon peserta memilih metode kontrasepsi non hormonal. (Saifuddin, 2006: MK-39)
·         Genetalia
Pendarahan bercak/spotting atau pendarahan sela sampai 10 hari. (Saifuddin, 2006: MK-34)

2.2.2        Identifikasi Diagnosa Dan Masalah
Dari data obyektif dan subyektif di atas kemungkinan didapatkan Masalah yang sering timbul: (Depkes RI, 1995 : 54)
Diagnosa            : Ny… Papiah umur…..tahun, akseptor KB suntik progestin, keluhan…, keadaan umum….
Dengan masalah : - Cemas sehubungan dengan efek samping aminorrhoe.
- Gangguan body image sehungan dengan dengan efek samping amenorrhoe.

2.2.3        Antisipasi Masalah Potensial
Kemungkinan masalah yang akan timbul dari diagnosa (Depkes RI, 1995 : 54)

2.2.4        Antisipasi Kebutuhan Segera
Kebutuhan yang harus segera terpenuhi jika timbul masalah potensial (Depkes RI, 1995 : 55)

2.2.5        Intervensi
Diagnosa : Ny… Papiah umur…..tahun, akseptor KB suntik progestin, keluhan…, keadaan umum….
Tujuan             : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama kurang lebih 15 menit diharapkan Klien mampu beradaptasi dengan keluhannya.
Kriteria hasil    :  - Mampu mengatasi efek samping secara sederhana.
                                    - Keluhan tidak bertambah berat.
Intervensi :
a. Kaji pengetahuan ibu tentang KB suntik progestin.
Rasional    : Mengetahui sampai dimana pengetahuan ibu tentang KB suntik.
b.      Jelaskan efek samping dan cara mengatasinya yang belum diketahui oleh ibu.
Rasional    : Klien mampu mengenali efek samping dan mampu mengatasi secara mandiri.
c.       Anjurkan ibu untuk periksa apabila keluhan bertambah berat atau timbul masalah baru.
Rasional    : Deteksi dini adanya kelainan dan pencegahan komplikasi.

d.      Beri suntikan progestin.
Rasional    : Suntikan progestin mencegah terjadinya kehamilan selama 3 bulan.
e.       Anjurkan ibu datang kembali suntik KB sesuai dengan jadwal yaitu 12 minggu ( 3 bulan ) kemudian.
Rasional    : Jadwal penyuntikan yang terlambat dapat menyebabkan kadar hormon dalam tubuh menurun yang memungkinkan terjadinya kehamilan.
Masalah I
Cemas sehubungan dengan efek samping spotting.
Tujuan                : Setelah dilakukan asuham kebidanan selama 10 menit diharapkan cemas berkurang / hilang.
Kriteria hasil       : -  Pasien dapat beradaptasi dengan keadaannya.
-    Pasien lebih tenang.
Intervensi :
a. Lakukan pendekatan secara therapeutik.
      Rasional       : Mambantu menumbuhkan kepercayaan pasien.
b.Kaji pengetahuan pasien tentang amenorrhoe.
Rasional       : Mengetahui tingkat pengetahuan pasien.
c. Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalahnya.
Rasional       : Meningkatkan harga diri pasien.
d.      Jelaskan pada pasien penyebab amenorrhoe.
Rasional       : Mengurangi kecemasan ibu.
e. Jelaskan pada ibu efek amenorrhoe dapat mengurangi terjadinya anemia.
Rasional       : Spotting yang terjadi pada akseptor KB suntik mengurangi pengeluaran hemoglobin sehingga anemia dapat dicegah.
Masalah II
Gangguan body image sehubungan dengan perubahan bentuk tubuh.
Tujuan                : Setelah dilakukan asuham kebidanan selama 10 menit diharapkan Klien mampu beradaptasi dengan perubahan bentuk tubuh.
Kriteria hasil       :  -  Pasien mampu beradaptasi.
-    Pasien lebih tenang
-    Harga diri pasien meningkat.
Intervensi :
a.       Lakukan pendekatan pada ibu dan identifikasi masalah yang dihadapi.
Rasional       : Meningkatkan harga diri klien sehingga ibu mau dan mampu mengungkapkan masalahnya.
b.      Diskusikan dengan ibu tentang KB ideal ibu.
Rasional       : Meningkatkan pengetahuan ibu tentang BB ideal.
c.       Jelaskan pada ibu penyebab peningkatan BB.
Rasional       : Mengurangi kecemasan ibu.
d.      Anjurkan ibu ganti kontrasepsi apabila mengalami kenaikan BB yang terlalu banyak pada tahun kedua dan seterusnya.
Rasional       : Menghindari masalah perubahan bentuk tubuh.
e.       Anjurkan ibu untuk beraktifitas sesuai kemampuan.
Rasional       : Aktifitas mambantu mengurangi BB.
f.       Anjurkan ibu untuk mengatur diet sehari-hari.
Rasional       : Peningkatan BB juga dipengaruhi pola makan dan kualitas makanan yang tidak seimbang.

2.2.6        Implementasi
Langkah pelaksanaan dalam asuhan di lakukan sesuai rencana yang telah di tetapkan, baik secara mandiri, kolaborasi/ rujukan. Pelaksanaan tindakan di upayakan dalam waktu yang singkat dan efektif, hemat dan berkualitas. (Depkes RI, 1995:11)

2.2.7        Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah aktif dari proses asuhan kebidanan.
Tindakan pengukuran kebersihan dan rencana.
Tujuan untuk mengetahui sejauh mana kebersihan tindakan kebudanan yang di lakukan. (Depkes RI,1995:11)
Terdiri dari         :
S          : Data Subyektif
Menggambarkan pengumpulan data melalui anamnese.
O         : Data Obyektif
Menggambarkan pengumpulan data dari pemeriksaan fisik, labolatorium, tes diagnostic dan di rumuskan dalam data focus untuk mendukung asesment.
A         : Assessment
Menggambarkan hasil analisa dan interpretasi data subjektif dan obyektif dalam suatu identifikasi diagnosa dan antisipasi.
P          : Planning
Menggambarkan pendokumentasian, persamaan, tindakan evaluasi berdasarkan assessment..( Depkes RI, 1995 : 7-10)






BAB III
TINJAUAN KASUS

PENGKAJIAN
Tanggal pengkajian        :4 - 7 - 2009
Jam pengkajian               : 19.15 WIB
No register                     : 77
A.          DATA SUBJEKTIF
1. Biodata


Istri
Suami

Nama
Umur
Agama
Pekerjaan
Pendapatan
Pendidikan
Kawin Ke-
Alamat
: Ny  “ S “
: 43 tahun
: Kristen
: IRT
: -
: SMA
: I
: Madiun
Tn  “ S “
45 tahun
Kristen
wiraswasta
Rp 1.200.000
SMA
I
Madiun

2.   Keluhan Utama
Ibu datang untuk suntik KB, ibu mengeluh tidak menstruasi 4 bulan ini, selama ikut KB suntik kurang lebih 8  tahun.

3.   Riwayat Kesehatan Dahulu
Ibu mengatakan saat ini ibu tidak menderita suatu penyakit tertentu seperti dengan gejala jantung berdebar –debar dan sering berkeringat (Jantung), sesak nafas (Asma), cepat lelah, pusing dan pucat (Anemia), cepat lelah, lapar dan haus ( DM ), darah suka membeku (Hemofilia), kulit, mata dan kuku kuning dan air kencing seperti teh (Hepatitis). Batuk lama dan terasa sakit (TBC). Keputihan berlebihan, gatal, dan bau (PMS). Sakit dan terasa panas saat BAK (ISK). Darah tinggi (hipertensi)

4.Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu tidak sedang hamil dan Ibu mengatakan saat ini ibu tidak menderita suatu penyakit tertentu seperti dengan gejala jantung berdebar –debar dan sering berkeringat (Jantung), sesak nafas (Asma), cepat lelah, pusing dan pucat (Anemia), cepat lelah, lapar dan haus ( DM ), darah suka membeku (Hemofilia), kulit, mata dan kuku kuning dan air kencing seperti teh (Hepatitis). Batuk lama dan terasa sakit (TBC). Keputihan berlebihan, gatal, dan bau (PMS). Sakit dan terasa panas saat BAK (ISK). Darah tinggi (hipertensi ) serta sakit kepala/pusing sebelah (migraine)

5.Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan saat ini keluarga Ibu tidak menderita suatu penyakit tertentu seperti dengan gejala jantung berdebar –debar dan sering berkeringat (Jantung), sesak nafas (Asma), cepat lelah, pusing dan pucat (Anemia), cepat lelah, lapar dan haus ( DM ), darah suka membeku (Hemofilia), kulit, mata dan kuku kuning dan air kencing seperti teh (Hepatitis). Batuk lama dan terasa sakit (TBC). Keputihan berlebihan, gatal, dan bau (PMS). Sakit dan terasa panas saat BAK (ISK). Darah tinggi (hipertensi )

6.Riwayat Obstetri
-          Haid
Ibu mengatakan haid pertama (menarche) umur 12 tahun. Siklus haid teratur kurang lebih 28 hari, lama kurang lebih 7 hari, ganti pembalut 2 x / hari, darah berwarna merah segar, konsentrasi cair kadang ada gumpalan, nyeri perut  ringan pada hari pertama haid. Tidak mengalami perdarahan diluar siklus haid. Keputihan beberapa hari sebelum dan setelah haid berwarna putih, kental, dan tidak berbau.

-          Riwayat Kehamilan, Persalinan Dan Nifas Yang Lalu.
Ibu mengatakan mempunyai anak dua. Kedua –duanya Usia kehamilannya 9 bulan. Selama hamil muda anak yang ke dua ibu mengeluh mual dan muntah yang menghilang pada usia kehamilan 3 bulan. Ibu periksa teratur di dokter keluarga kurang lebih 10 kali selama kehamilan, imunisasi TT 2 kali, diberikan tablet tambah darah dan kapsul iodium. Persalinan ditolong oleh bidan, normal, jenis kelamin perempuan dengan berat badan 2700 gram, panjang badan 48 cm, tidak ada cacat bawaan. Ibu tidak mengalami perdarahan, demam,  ataupun gangguan dalam menyusui selama nifas, usia anak sekarang 9 tahun.

7.Riwayat KB
Ibu mengatakan menggunakan kontrasepsi suntik setelah anak kedua berusia 1 tahun dan hingga sekarang memakai KB suntik 3  bulan selama 8 tahun. Ibu mengeluh selama 4 bulan ini tidak pernah menstruasi dan biasanya hanya 1 bulan tidak mens selama menggunakan KB suntik, tetapi ibu selalu suntik rutin setiap bulan.

8.Pola Kebiasaan Sehari – Hari
Pola Kebiasaan
Sebelum menggunakan KB suntik
Selama menggunakan KB suntik
Nutrisi





Eliminasi






Istirahat/ tidur




Aktifitas



Personal hygiene

Makan 3 kali sehari porsi sedang dengan komposisi nasi, lauk pauk, sayur dan terkadang makan buah. Minum 7-8 gelas sehari.

BAB 1x / hari, warna kekuningan, bau khas, konsistensi lunak, tidak ada gangguan. BAK 4-5x / hari, warna kuning jernihbau khas, tidak ada keluhan saat kencing.
Tidur malan 8 jam sehari pukul 21.00-05.00 WIB, terkadang tidur siang ± 1 jam. Tidak sering terbangun saat tidur.
Aktifitas sebagai ibu rumah tangga memasak, menyapu, mengepel, mencuci, mengasuh anak.
Mandi 2x sehari, gosok gigi, keramas 2x seminggu, ganti baju 2 akli sehari ganti celana dalam tiap habis mandi atau sewaktu-waktu bila basah setelah BAK/ BAB.
Nafsu makan ibu agak bertambah, makan 3 kali sehari denagn porsi banyak, dengan komposisi nasi, lauk, sayur dan buah. Minum 7-9 gelas air putih per hari.
BAB 1x / hari, warna kekuningan, bau khas, konsistensi lunak, tidak ada gangguan. BAK 4-5x / hari, warna kuning jernihbau khas, tidak ada keluhan saat kencing.
Tidur malan 8 jam sehari pukul 21.00-05.00 WIB, terkadang tidur siang ± 1 jam. Tidak sering terbangun saat tidur.
Aktifitas sebagai ibu rumah tangga memasak, menyapu, mengepel, mencuci, mengasuh anak.
Mandi 2x sehari, gosok gigi, keramas 2x seminggu, ganti baju 2 akli sehari ganti celana dalam tiap habis mandi atau sewaktu-waktu bila basah setelah BAK/ BAB.

9.Latar Belakang Budaya
Ibu terkadang minum jamu jawa atau pijat. Menurut adat yang ada di masyarakat kontrasepsi suntik diperbolehkan.

10.  Keadaan Psikososial Dan Spiritual
Ibu mengatakan khawatir karena 4 bulan ini tidak mens, karena biasanya hanya 1 bulan tidak mens. Keluarga terutama suami memberi dukungan untuk ibu. Saat dikaji ibu sering mengganti posisi duduknya. Ibu melaksanakan ibadah setiap minggu.
B. DATA OBYEKTIF
1.   Pemeriksaan Umum
Keadaan umum baik kesadaran compos mentis.

2.   TTV
T : 110 / 70 mmHg
N : 82 x / menit
S : 36,5 C
R : 24x / menit

3.   Anthopometri
BB sebelumnya              : 47 kg
BB sekarang                   : 47 kg
TB                                  : 153 cm
Lila                                 : 25 cm

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
o      Kepala                : Tidak ada luka, rambut warna hitam  bergelombang, tidak ada ketombe.
o      Muka                  : Bentuk oval, tidak sembab, tidak ada lesi, terdapat  beberapa jerawat di dahi ibu.
o      Mata                   : Simetri, kelopak mata tidak sembab, tidak ada sekret, sklera putih, konjungtiva merah muda.
o   Hidung               : Lubang dan septum hidung simetris, tidak ada polip, mukosa lembab, tidak ada sekret.
o      Telinga               : Bentuk simetris, tidak ada serumen.
o      Mulut                 : Bibir tidak sumbing, tidak ada stomatitis, lembab, mukosa mulut lembab, gusi tidak berdarah, gigi bersih, tidak ada caries, tidak ada yang berlubang, lidah bersih, simetris, warna merah mud, tidak ada ulkus lidah.
o      Leher                  : Tidak ada pembesaran vena jugularis.
o   Dada                  : Pengembangan dada saat bernapas normal, napas teratur, payudara simetris, tidak ada hiperpigmentasi areola mammae dan papila mammae.
o      Abdomen           : Tidak ada tanda-tanda kehamilan ( pembesaran perut, strie gravidarum ).
o      Genetalia            : Ada bercak darah haid, tidak ada oedem, tidak ada varises, tidak ada condilomatalata/ acuminata.
o      Anus                   : Tidak ada haemoroid
o      Ekstremitas        :Tidak ada varises, tidak ada oedem pada tungkai.

Palpasi
o   Kepala                   : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjola.
o   Leher                     : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
o   Dada                     : Tidak ada nyeri tekan pada payudara, tidak ada benjolan abnormal pada payudara.
o   Aksila                    : Tidak ada kelenjar limfe.
o   Abdomen              : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran hati, tidak ada pembesaran uterus.
o   Genetalia               : Tidak ada nyeeri tekan pada kelenjar skene dan bartholini.
o    
Perkusi
o   Paru – paru      : Sonor
o   Jantung            : Pekak
o   Abdomen        : Bunyi tymphani
o   Ekstremitas     : Reflek patela normal

Auskultasi
o   Paru – paru      : Tidak ada suara napas tambahan seperti ronki, wheezing, krepitasi. Adanya vokal fremitus.
o   Jantung            : Tidak ada denyut jantung pada apek. Bunyi jantung I dan bunyi jantung II tunggal ( lup dug )
o   Abdomen        : Bising usus 12 x / menit

3.2      IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH
Diagnosa            : Ny”S” P2002 umur 43 tahun, akseptor KB suntik progestin, keluhan amenorhoe, keadaan umum baik.
Data Subyektif   :
-          Ibu mengatakan mempunyai dua anak
-          Ibu mengatakan sudah menjadi akseptor KB suntik 8 tahun
-          Ibu mengatakan dalam 4 bulan ini tidak mens
Data Obyektif:
 -   TTV
T         : 110 / 70 mmHg
N        : 82 x / menit
S         : 36,5 C
R        : 24 x / menit
- TB       : 153 cm
- BB      : 47 kg
-  Suntik KB : progestin

Inspeksi            Tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada hiperpigmentasi areola mammae dan papila mammae, tidak ada tanda-tanda kehamilan (pembesaran perut, strie gravidarum ), tidak ada varises, tidak ada oedem pada tungkai.
Palpasi              Tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada nyeri tekan pada payudara, tidak ada benjolan abnormal pada payudara, tidak ada pembesaran uterus.
Perkusi             Paru – paru Sonor, jantung Pekak, abdomen bunyi tymphani, ekstremitas reflek patela normal.
Auskultasi
Paru – paru      : Tidak ada suara napas tambahan seperti ronki, wheezing, krepitasi. Adanya vokal fremitus.
Jantung            :Tidak ada denyut jantung pada apek. Bunyi jantung I dan bunyi jantung II tunggal ( lup dug ).
Masalah I
Diagnosa:
Cemas sehubungan dengan efek samping aminorrhoe.
DS:
 - Ibu mengatakan kurang lebih 1 tahun menggunakan KB suntik 3 bulan dan selama itu ibu tidak mendapat menstruasi.
- Ibu mengatakan khawatir karena tidak menstruasi
DO:
- Suntik KB Depo Provera kurang lebih 8 tahun
- Saat pengkajian ibu sering mengganti posisi duduknya

3.3   ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL
-
3.4   IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
Konseling efek samping

3.5   INTERVENSI
Tanggal : 4 – 7 - 2009                                                    Jam 19.25 WIB
Diagnosa
Ny”S” P10001 umur 25 tahun, akseptor KB suntik progestin, keadaan umum baik, keluhan amenorrhoe.
Tujuan                : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 10 menit diharapkan Klien mampu beradaptasi dengan keluhannya.
Kriteria hasil       :
-          Mampu mengatasi efek samping secara sederhana.
-          Keluhan tidak bertambah berat.
Intervensi :
    1. Kaji pengetahuan ibu tentang KB suntik progestin.
Rasional             : Mengetahui sampai dimana pengetahuan ibu tentang KB suntik.
    1. Jelaskan efek samping dan cara mengatasinya yang belum diketahui oleh ibu.
Rasional             : Klien mampu mengenali efek samping dan mampu mengatasi secara mandiri.
c.       Anjurkan ibu untuk periksa apabila keluhan bertambah berat atau timbul masalah baru.
Rasional          : Deteksi dini adanya kelainan dan pencegahan komplikasi.
d.      Beri suntikan progestin.
Rasional          : Suntikan progestin mencegah terjadinya kehamilan selama 3 bulan.
e.       Anjurkan ibu datang kembali suntik KB sesuai dengan jadwal yaitu 12 minggu ( 3 bulan ) kemudian.
Rasional          : Jadwal penyuntikan yang terlambat dapat menyebabkan kadar hormon dalam tubuh menurun yang memungkinkan terjadinya kehamilan.
Masalah I
Cemas sehubungan dengan efek samping spotting.
Tujuan                : Setelah dilakukan asuham kebidanan selama 15 menit diharapkan cemas berkurang / hilang.
Kriteria hasil       : -  Pasien dapat beradaptasi dengan keadaannya.
-    Pasien lebih tenang.
Intervensi :
1.      Lakukan pendekatan secara therapeutik.
Rasional          : Mambantu menumbuhkan kepercayaan pasien.
2.      Kaji pengetahuan pasien tentang amenorrhoe.
Rasional          : Mengetahui tingkat pengetahuan pasien.
3.      Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalahnya.
Rasional          : Meningkatkan harga diri pasien.
4.      Jelaskan pada pasien penyebab amenorrhoe.
Rasional          : Mengurangi kecemasan ibu.
5.      Jelaskan pada ibu efek amenorrhoe dapat mengurangi terjadinya anemia.
Rasional          : Spotting yang terjadi pada akseptor KB suntik mengurangi pengeluaran hemoglobin sehingga anemia dapat dicegah.

3.6    IMPLEMENTASI
Tanggal 4 – 7 -  2009                                         Jam 19.25 WIB
Diagnosa
a.       Mengkaji pengetahuan ibu tentang KB suntik.
Ibu dapat menjelaskan ada 2 jenis KB suntik yaitu suntik 1 bulan dan 3 bulan. Ibu memilih menggunakan KB suntik 3 bulan karena lebih efisien. Ibu hanya perlu suntik setiap 3 bulan sekali. Ibu dapat menjelaskan bahwa efek samping dari KB suntik yaitu gangguan pola haid dan peningkatan berat badan.

b.      Menjelaskan efek samping dan cara mengatasinya.
Efek samping yang belum diketahui ibu disini adalah tentang amenorrhoe dan peningkatan BB dimana hal ini merupakan pengaruh dari efek hormon progestin. Amenorrhoe merupakan hal fisiologis pada akseptor KB suntik 3 bulan sedangkan untuk mengatasi peningkatan BB sebaiknya ibu mengatur dietnya.
c.       Menganjurkan ibu untuk periksa apabila keluhan bertambah berat atau timbul masalah baru.
d.      Memberikan suntikan Progestoin.
-          Menyiapkan alat (spuit, jarum, kapas alkohol, kontrasepsi suntik 3 bulan).
-          Menyiapkan klien.
-          Mencuci tangan sebelum melakukan tindakan
-          Memberikan injeksi pada gluteal secara IM dengan melakukan aspirasi terlebih dulu pada daerah yang telah didesinfeksi.
-          Mengajurkan pada klien untuk tidak memijat bagian yang telah diinjeksi.
-          Spuit dispool dengan larutan klorin 0.5% dan membuang pada kotak yang tahan tusuk.
-          Mencuci tangan setelah melakukan injeksi.
e.       Menganjurkan ibu datang kembali untuk suntik KB sesuai dengan jadwal yaitu 12 minggu ( 3 bulan ) kemudian.

Masalah I
a.       Melakukan pendekatan secara therapeutik dengan sikap ramah, murah senyum, percaya diri dan mempunyai rasa empati yang besar.
b.      Mengkaji pengetahuan pasien tentang amenorrhoe.
Ibu dapat menjelaskan bahwa gangguan pola haid adalah efek samping dari kontrasepsi suntik. Ibu tidak dapat menjelaskan penyebab dari amenorrhoe.
c.       Memberi kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalahnya.
d.      Menjelaskan pada pasien penyebab amenorrhoe, dimana spotting disini disebabkan oleh hormon progestin di dalam darah.
Menjelaskan pada ibu efek amenorrhoe dapat mengurangi terjadinya anemia. menorrhoe disini berarti ibu tidak menstruasi dan selama itu ibu tidak mengeluarkan darah banyak mengandung hemoglobin dan tidak keluarnya hemoglobin berarti mencegah terjadinya anemia.
3.7        EVALUASI
Tanggal 4 – 7 -  2009                                         Jam 19.30 WIB
Diagnosa :
S             : Ibu mengatakan mengerti tentang penjelasan yang diberikan.
O            :
-  Injeksi suntik progestin
- Ibu mampu menjelaskan kembali keterangan yang diberikan secara sederhana.
A            : Klien mantap menjadi akseptor KB suntik.
P             : 3 bulan saat kontrol ( Tgl 24 – 9 – 2009)
- Berikan suntikan progestin.
- Evaluasi efek samping.

Masalah I
S             : Ibu mengatakan kecemasan berkurang.
O            : Sikap ibu lebih tenang.
A            : Klien mantap menjadi akseptor KB suntik progestin.
P             : 3 bulan saat kontrol ( Tgl 24 – 9 – 2009)
- Evaluasi efek samping amenorrhoe.



BAB IV
PENUTUP

                                    KESIMPULAN
         Dalam pelaksanaan Asuhan Kebidanan pada Ny “S” P20002  akseptor KB suntik progestin dapat disimpulkan yang merupakan jawaban dari tujuan tentang 7 langkah varney sebagai berikut :
1.      Pengkajian Data pada Ny “S” P20002 data subjektifnya yaitu
. Biodata


Istri
Suami

Nama
Umur
Agama
Pekerjaan
Pendapatan
Pendidikan
Kawin Ke-
Alamat
: Ny  “ S “
: 43 tahun
: Kristen
: IRT
: -
: SMA
: I
: Madiun
Tn  “ S “
45 tahun
Kristen
wiraswasta
Rp 1.200.000
SMA
I
Madiun

Ibu mengeluh tidak mens selam 4 bulan tetapi kunjungan ulang KB selalu rutin setiap bulan dan pada data objektifnya adalah
- Abdomen      : Tidak ada tanda-tanda kehamilan ( pembesaran perut, strie gravidarum ).
Identifikasi Diagnosa Masalah berdasarkan pengkajian adalah Ny “S” P20002  akseptor KB suntik progestin mengalami aminorhae.

2.      Tidak terdapat identifikasi Masalah Potensial pada Ny “S” P20002  akseptor KB suntik progestin dengan aminorhae.

3.      Identifikasi Kebutuhan Segera dengan pemberian Konseling efek samping
4.      Perencanaan / intervensi pada Ny “S” P20002  akseptor KB suntik progestin dengan aminorhae.
 antara lain:
a.       Kaji pengetahuan ibu tentang KB suntik progestin.
b.      Jelaskan efek samping dan cara mengatasinya yang belum diketahui oleh ibu.
c.       Anjurkan ibu untuk periksa apabila keluhan bertambah berat atau timbul masalah baru.
d.      Beri suntikan progestin.
e.       Anjurkan ibu datang kembali suntik KB sesuai dengan jadwal yaitu 12 minggu ( 3 bulan ) kemudian.
Masalah I
Cemas sehubungan dengan efek samping spotting.
Intervensi :
a.       Lakukan pendekatan secara therapeutik.
b.      Kaji pengetahuan pasien tentang amenorrhoe.
c.       Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalahnya.
d.      Jelaskan pada pasien penyebab amenorrhoe.
e.       Jelaskan pada ibu efek amenorrhoe dapat mengurangi terjadinya anemia.
5.      Implementasi pada Ny “S GIP00000 P20002  akseptor KB suntik progestin dengan aminorhae.
Diagnosa
a.       Mengkaji pengetahuan ibu tentang KB suntik.
Ibu dapat menjelaskan ada 2 jenis KB suntik yaitu suntik 1 bulan dan 3 bulan. Ibu memilih menggunakan KB suntik 3 bulan karena lebih efisien. Ibu hanya perlu suntik setiap 3 bulan sekali. Ibu dapat menjelaskan bahwa efek samping dari KB suntik yaitu gangguan pola haid dan peningkatan berat badan.


b.      Menjelaskan efek samping dan cara mengatasinya.
Efek samping yang belum diketahui ibu disini adalah tentang amenorrhoe dan peningkatan BB dimana hal ini merupakan pengaruh dari efek hormon progestin. Amenorrhoe merupakan hal fisiologis pada akseptor KB suntik 3 bulan sedangkan untuk mengatasi peningkatan BB sebaiknya ibu mengatur dietnya.
c.       Menganjurkan ibu untuk periksa apabila keluhan bertambah berat atau timbul masalah baru.
d.      Memberikan suntikan Progestin.
-          Menyiapkan alat (spuit, jarum, kapas alkohol, kontrasepsi suntik 3 bulan).
-          Menyiapkan klien.
-          Mencuci tangan sebelum melakukan tindakan
-          Memberikan injeksi pada gluteal secara IM dengan melakukan aspirasi terlebih dulu pada daerah yang telah didesinfeksi.
-          Mengajurkan pada klien untuk tidak memijat bagian yang telah diinjeksi.
-          Spuit dispool dengan larutan klorin 0.5% dan membuang pada kotak yang tahan tusuk.
-          Mencuci tangan setelah melakukan injeksi.
e.       Menganjurkan ibu datang kembali untuk suntik KB sesuai dengan jadwal yaitu 12 minggu ( 3 bulan ) kemudian.

Masalah I
a.       Melakukan pendekatan secara therapeutik dengan sikap ramah, murah senyum, percaya diri dan mempunyai rasa empati yang besar.
b.      Mengkaji pengetahuan pasien tentang amenorrhoe.
Ibu dapat menjelaskan bahwa gangguan pola haid adalah efek samping dari kontrasepsi suntik. Ibu tidak dapat menjelaskan penyebab dari amenorrhoe.
c.       Memberi kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalahnya.
d.      Menjelaskan pada pasien penyebab amenorrhoe, dimana spotting disini disebabkan oleh hormon progestin di dalam darah.
Menjelaskan pada ibu efek amenorrhoe dapat mengurangi terjadinya anemia. menorrhoe disini berarti ibu tidak menstruasi dan selama itu ibu tidak mengeluarkan darah banyak mengandung hemoglobin dan tidak keluarnya hemoglobin berarti mencegah terjadinya anemia.

6.      Evaluasi pada Ny “S” P20002  akseptor KB suntik progestin dengan aminorhae.
Diagnosa :
S       : Ibu mengatakan mengerti tentang penjelasan yang diberikan.
O      :
-  Injeksi suntik progestin
- Ibu mampu menjelaskan kembali keterangan yang diberikan secara sederhana.
A      : Klien mantap menjadi akseptor KB suntik.
P       : 3 bulan saat kontrol ( Tgl 24 – 9 – 2009)
- Berikan suntikan progestin.
- Evaluasi efek samping.
Masalah I
S       : Ibu mengatakan kecemasan berkurang.
O      : Sikap ibu lebih tenang.
A      : Klien mantap menjadi akseptor KB suntik progestin.
P       : 3 bulan saat kontrol ( Tgl 24 – 9 – 2009)
- Evaluasi efek samping amenorrhoe.

                                    SARAN
a.    Untuk Mahasiswa atau Praktikan.
Manggali ilmu semaksimal mungkin untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan mahasiswa tentang masalah – masalah yang terjadi pada akseptor KB suntik
b.   Untuk Masyarakat.
Agar masyarakat kususnya akseptor KB suntik tidak cemas dengan keadaan –keadaan yang merupakan efek samping KB dengan progestin.
c.    Untuk Instansi/ rumah sakit
Meningkatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA

Chelia. (209). Ada Apa Dengan KB?. Edisi 16 januari 2009. http://chelia1809.blogspot.com/2009/01/ada-apa-dengan-KB_20.html
Hartanto. Hanafi.( 2004 ). Keluarga berencana dan Kontrasepsi. Jakarta; pustaka Sinar Harapan.
Kompas. (2009). KB Suntik Paling Digemari Ibu-Ibu. Diambil tanggal 22 April 2009. http://www.lintasberita.com/sains/KB_suntik_paling_digemari_ibu-ibu
Saifuddin . A. B. ( 2006 ). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta ; Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.


1 komentar:

  1. This is how my acquaintance Wesley Virgin's adventure starts with this shocking and controversial video.

    Wesley was in the military-and shortly after leaving-he discovered hidden, "SELF MIND CONTROL" tactics that the government and others used to get anything they want.

    As it turns out, these are the exact same secrets many celebrities (notably those who "come out of nowhere") and top business people used to become rich and famous.

    You probably know how you use only 10% of your brain.

    That's because most of your BRAINPOWER is UNCONSCIOUS.

    Perhaps this conversation has even occurred INSIDE your own head... as it did in my good friend Wesley Virgin's head around seven years ago, while riding an unregistered, beat-up bucket of a vehicle without a license and $3.20 on his banking card.

    "I'm so frustrated with going through life paycheck to paycheck! When will I finally succeed?"

    You've taken part in those types of thoughts, ain't it right?

    Your success story is going to happen. Go and take a leap of faith in YOURSELF.

    WATCH WESLEY SPEAK NOW

    BalasHapus

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE PADA DEWASA A.      DEFINISI ·          Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau t...