Minggu, 15 Desember 2013

Makalah Gizi Seimbang Bagi Bayi

Makalah Gizi Seimbang Bagi Bayi



KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayahnya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul GIZI SEIMBANG BAGI BAYI” .
Tidak lupa penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada :

1.      Staf pengajar AKZI selaku dosen  pembimbing kami
2.      Orang tua yang telah mendukung kami dalam hal materi maupun non-materi
3.      Teman-teman yang sudah berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini .

Makalah ini disusun untuk memberikan informasi kepada para mahasiswa/i tentang “GIZI SEIMBANG BAGI BAYI”, serta guna memenuhi tugas yang telah diberikan kepada kami. Kami menyadari bahwa dalam Makalah  ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan makalah  ini sangat kami harapkan. Semoga makalah ini berguna bagi kita semua.

          Kediri, 15 Juni 2013

     Penyusun



DAFTAR ISI 


Halaman Judul............................................................................................................            i
Kata Pengantar...........................................................................................................             ii
Daftar Isi.....................................................................................................................            iii

BAB I : PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang.........................................................................................................         1
1.2  Rumusan Masalah....................................................................................................         1
1.3  Tujuan Penulisan.....................................................................................................          2
1.4  Batasan Masalah......................................................................................................         2
1.5  Metode Penulisan.....................................................................................................        2

BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Definisi Bayi..............................................................................................................       3
2.2 Prinsip Gizi Seimbang Bagi Bayi..............................................................................        4
2.3 Macam-Macam  Makanan Bagi Bayi........................................................................        4
2.4 Cara Pengelolaan Makanan Bayi..............................................................................        7
2.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian Makanan Pada Bayi..............    ..          11
2.6 Pengaruh Status Gizi Seimbang Bagi Bayi...............................................................        13
2.7 Sistem Pencernaan Bayi............................................................................................        14
2.8 Dampak Kekurangan Dan Kelebihan Gizi Pada Bayi........................................  ...         17

BAB III : PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................................................      20
3.2 Saran............................................................................................................................     20
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................   21




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
       Konsumsi gizi yang baik dan cukup seringkali tidak bisa dipenuhi oleh  seorang anak karena faktor eksternal maupun intaernal. Faktor eksternal menyangkut keterbatasan ekonomi keluarga sehingga uang yang tersedia tidak cukup untuk membeli makanan. Sedangkan faktor internal adalah faktor yang terdapat di dalam diri anak yang secara psikologis muncul sebagai problema makan pada anak.
       Anak balita memang sudah bisa makan apa saja seperti halnya orang dewasa. Tetapi mereka pun bisa menolak makanan yang disajikan tidak memenuhi selera mereka. Oleh karena itu sebagai orang tua kita juga harus berlaku demokratis untuk sekali-kali menghidangkan makanan yang memang menjadi kegemaran si anak.
Intake gizi yang baik berperan penting didalam mencapai pertumbuhan badan yang optimal. Dan pertumbuhan badan yang optimal ini mencakup pula pertumbuhan otak yang sangat menentukan kecerdasan seseorang.
       Faktor yang paling terluhat pada lingkungan masyarakat adalah kurangnya pengetahuan ibu mengenai gizi-gizi yang harus dipenuhi anak pada masa pertumbuhan. Ibu biasanya memberikan makan yang enak kepada anaknya tanpa tahu apakah makanan tersebut mengandung gizi-gizi yang cukup atau tidak, dan tidak mengimbanginya dengan makanan sehat yang mengandung banyak gizi.

1.2  Rumusan Masalah
1        Apakah definisi bayi itu sendiri?
2        Sebutkan macam-macam  makanan bagi bayi!
3        Apa saja prinsip gizi seimbang bagi bayi?
4        Bagaimana cara pengelolaan makanan untuk bayi?
5        Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian makanan pada bayi!
6        Apa pengaruh status gizi seimbang bagi bayi?
7        Bagaimana sistem pencernaan bayi?
8        Apa saja dampak kekurangan dan kelebihan gizi pada bayi?

1.3  Tujuan Penulisan
       Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah gizi kesehatan reproduksi serta untuk mengetahui tentang gizi seimbang bagi bayi.

1.4  Batasan Masalah
       Agar penulisan ini sesuai dengan yang diinginkan, perlu adanya batasan masalah guna terarahnya dan tidak terjadi penyimpangan pada makalah ini. Makalah ini membahas  tentang gizi seimbang bagi bayi .
       Makalah ini ditujukan kepada mahasiswa kesehatan, tenaga medis serta masyarakat umum agar dapat memperluas wawasannya mengenai gizi seimbang bagi bayi.

1.5  Metode penulisan
       Adapun metode yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah : browsing adalah metode yang dilakukan dengan cara mencari bahan-bahan  yang berkaitan dengan judul karya tulis melalui akses internet. Dan kajian pustaka  adalah mencari bahan – bahan materi dari buku .


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Bayi
       Bayi adalah masa tahapan pertama kehidupan seorang manusia setelah terlahir dari rahim seorang ibu. Pada masa ini, perkembangan otak dan fisik bayi selalu menjadi perhatian utama, terutama pada bayi yang terlahir prematur maupun bayi yang terlahir cukup bulan namun memiliki berat badan rendah. Baik ibu maupun bapak dan orang-orang terdekat si bayi juga harus selalu mengawasi serta memberikan perawatan yang terbaik bagi bayi sampai bayi berumur 1 tahun.
Sedangkan pengertian bayi baru lahir  adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu, memiliki berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram. Bayi baru lahir dapat dilahirkan melalui 2 cara, secara normal melalui vagina atau melalui operasi cesar. Bayi baru lahir harus mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru karena setelah plasentanya dipotong maka tidak ada lagi asupan makanan  dari ibu selain itu kondisi bayi baru lahir masih rentan terhadap penyakit. Karena itulah bayi memerlukan perawatan yang insentif. Jagalah kebersihan bayi dan berikan nutrisi yang cukup kepada bayi melalui ASI.
Selain pengertian bayi baru lahir, akan diberikan ciri-ciri bayi baru lahir normal dan sehat. Berikut ini ciri-ciri bayi baru lahir sehat:
Ø  Berat badan 2500 – 4000 gram
Ø  Panjang badan 48 – 52 cm
Ø  Lingkar dada 30 – 38 cm
Ø  Lingkar kepala 33 – 35 cm
Ø  Frekuensi jantung 120 – 160 kali/menit
Ø  Pernafasan ±  60 - 40 kali/menit
Ø  Genitalia, pada bayi perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora sedangkan pada bayi laki-laki testis sudah turun dan skrotum sudah ada
Ø  Memiliki 3 gerak reflek bayi yaitu : reflek hisap dan menelan, reflek morrow atau gerak memeluk bila dikagetkan dan reflek graps atau menggenggam.

2.2  Prinsip Gizi Seimbang Bagi Bayi
Makanan terbaik bagi bayi adalah ASI. Namun, dengan bertambahnya umur bayi dan tumbuh kembang, bayi memerlukan energi dan zat-zat gizi yang melebihi jumlah ASI. Bayi harus mendapat makanan Makanan tambahan/ pendamping ASI. Banyaknya ASI yang dihasilkan ibu tergantung dari status gizi ibu, makanan tambahan sewaktu hamil/menyusui, stress mental dan sebagainya. Dianjurkan untuk memberi 100-110 Kkal energi tiap kgBB/ hari. Oleh karena itu, susu bayi mengandung kurang lebih 67 Kkal tiap 100 cc. Maka bayi diberikan 150-160 cc susu tiap kgBB. Tetapi tidak semua bayi memerlukan jumlah energi tersebut.

2.3  Macam Macam  Makanan Bagi Bayi
Makanan bayi beraneka ragam macamnya yaitu :
1.      ASI (Air Susu Ibu)
       Yang paling baik untuk bayi baru lahir adalah ASI. ASI mempunyai keunggulan baik ditinjau segi gizi, daya kekebalan tubuh, psikologi, ekonomi dan sebagainya.
a.       Manfaat ASI
·         Bagi Ibu
                    i.            Aspek kesehatan ibu : isapan bayi akan merangsang terbentuknya oksitosin oleh kelenjar hipofisis. Oksitosin akan membantu involusi uterus dan mencegah terjadi perdarahan post partum. Penundaan haid dan berkurangnya perdarahan post partum mengurangi prevalensi anemia zat besi. Selain itu, mengurangi angka kejadian karsinoma mammae.
                  ii.            Aspek keluarga berencana : merupakan KB alami, sehingga dapat menjarangkan kehamilan. Menurut penelitian, rerata jarak kehamilan pada ibu yang menyusui adalah 24 bulan, sedangkan yang tidak 11 bulan.
                iii.            Aspek psikologis : ibu akan merasa bangga dan diperlukan oleh bayinya karena dapat menyusui.
·         Bagi Bayi
          i.            Nutrien (zat gizi) yang sesuai untuk bayi : mengandung lemak, karbohidrat, protein, garam dan mineral serta vitamin.
        ii.            Mengandung zat protektif : terdapat zat protektif berupa laktobasilus bifidus,laktoferin, lisozim, komplemen C3 dan C4, faktor antistreptokokus, antibodi, imunitas seluler dan tidak menimbulkan alergi.
      iii.            Mempunyai efek psikologis yang menguntungkan : sewaktu menyusui kulit bayi akan menempel pada kulit ibu, sehingga akan memberikan manfaat untuk tumbuh kembang bayi kelak. Interaksi tersebut akan menimbulkan rasa aman dan kasih sayang.
      iv.            Menyebabkan pertumbuhan yang baik : bayi yang mendapat ASI akan mengalami kenaikan berat badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan setelah periode perinatal baik dan mengurangi obesitas.
        v.            Mengurangi kejadian karies dentis : insiden karies dentis pada bayi yang mendapat susu formula lebih tinggi dibanding yang mendapat ASI, karena menyusui dengan botol dan dot pada waktu tidur akan menyebabkan gigi lebih lama kontak dengan sisa susu formula dan menyebabkan gigi menjadi asam sehingga merusak gigi.
      vi.            Mengurangi kejadian maloklusi : penyebab maloklusi rahang adalah kebiasaan lidah yang mendorong ke depan akibat menyusu dengan botol dan dot. 
·         Bagi Keluarga
          i.            Aspek ekonomi : ASI tidak perlu dibeli dan karena ASI bayi jarang sakit sehingga dapat mengurangi biaya berobat.
        ii.            Aspek psikologis : kelahiran jarang sehingga kebahagiaan keluarga bertambah dan mendekatkan hubungan bayi dengan keluarga.
      iii.            Aspek kemudahan : menyusui sangat praktis sehingga dapat diberikan dimana saja dan kapan saja serta tidak merepotkan orang lain.
·         Bagi Negara
          i.            Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak.
Adanya faktor protektif dan nutrien yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta angka kesakitan dan kematian menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, seperti diare, otitis media, dan infeksi saluran pernafasan bagian bawah.

        ii.            Mengurangi subsidi untuk rumah sakit.
Dengan adanya rawat gabung maka akan memperpendek lama rawat inap ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta mengurangi biaya perawatan anak sakit.
      iii.            Mengurangi devisa untuk membeli susu formula.
ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui, diperkirakan akan menghemat devisa sebesar Rp 8,6 milyar untuk membeli susu formula.
      iv.            Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.
Anak yang dapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal, sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin.
2        Komposisi ASI     
Komposisi ASI tidak sama dari waktu ke waktu, hal ini berdasarkan pada stadium laktasi. Komposisi ASI dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
1.        Kolostrum      : ASI yang dihasilkan pada hari pertama sampai hari ketiga setelah bayi lahir.
2.        ASI transisi    : ASI yang dihasilkan mulai hari keempat sampai hari ke sepuluh.
3.        ASI mature    : ASI yang dihasilkan mulai hari kesepuluh sampai dengan seterusnya.
3        Kecukupan ASI
Untuk mengetahui kecukupan ASI dapat dilihat dari :
1.        Berat badan waktu lahir telah tercapai sekurang-kurangnya akhir  minggu setelah lahir dan selama itu tidak terjadi penurunan berat badan lebih 10 %.
2.        Kurve pertumbuhan berat badan memuaskan, yaitu menunjukkan berat badan pada :
triwulan ke 1  : 150-250 gr setiap minggu,
triwulan ke 2  : 500-600 gr setiap bulan,
triwulan ke 3  : 350-450 gr setiap bulan,
triwulan ke 4  : 250-350 gr setiap bulan atau berat badan naik 2 kali lipat berat badan waktu lahir pada umur 4-5 bulan dan 3 kali lipat pada umur satu tahun.
3.        Bayi lebih banyak ngompol, sampai 6 kali atau lebih dalam sehari.
4.        Setiap kali menyusui, bayi menyusu dengan rakus, kemudian melemah dan tertidur.
5.        Payudara ibu terasa lunak setelah menyusui.
2.    MP ASI (Makanan Pendamping ASI)
Makanan pendamping ASI (MPASI) diberikan setelah bayi berumur 6 bulan.
Jenis MP ASI diantaranya :
a.       Buah-buahan yang dihaluskan/ dalam bentuk sari buah. Misalnya pisang Ambon, pepaya , jeruk, tomat.
b.      Makanan lunak dan lembek. Misal bubur susu, nasi tim.
c.       Makanan bayi yang dikemas dalam kaleng/ karton/ sachet.
Tujuan pemberian makanan tambahan pendamping ASI adalah :
a.  Melengkapi zat gizi ASI yang sudah berkurang.
b. Mengembangkan kemampuan bayi untuk menerima bermacam-macam makanan dengan berbagai rasa dan bentuk.
c.  Mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan.
d. Mencoba adaptasi terhadap makanan yang mengandung kadar energi tinggi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian MP ASI :
a.       Perhatikan kebersihan alat makan.
b.      Membuat makanan secukupnya.
c.       Berikan makanan dengan sebaik-baiknya.
d.      Membuat variasi makanan.
e.       Ajak makan bersama anggota keluarga lain
f.       Jangan memberi makanan dekat dengan waktu makan
g.      Makanan berlemak menyebabkan rasa kenyang yang lama.

2.4  Cara Pengelolaan Makanan Bayi
       Bayi setelah lahir sebaiknya diberikan ASI, namun seiring dengan tumbuh kembang diperlukan makanan pendamping ASI.
Tabel 2. Definisi Pemberian Makanan Bayi
Pemberian ASI Eksklusif
(Exclusive breastfeeding)
Bayi hanya diberikan ASI tanpa makanan atau minuman lain termasuk air putih, kecuali obat, vitamin dan mineral dan ASI yang diperas.
Pemberian ASI Predominan
(Predominant breastfeeding)
Selain mendapat ASI, bayi juga diberi sedikit air minum, atau minuman cair lain, misal air teh.
Pemberian ASI Penuh
(Full breastfeeding)
Bayi mendapat salah satu ASI eksklusifatau ASI predominan
Pemberian Susu Botol
(Bottle feeding)
Cara pemberian makan bayi dengan susu apa saja, termasuk juga ASI diperas dengan botol.
Pemberian ASI Parsial
(Artificial feeding)
Sebagian menyusui dan sebagian lagi susu buatan/ formula atau sereal atau makanan lain.
Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) tepat waktu (Timely complementary feeding)
Memberikan bayi makanan lain disamping ASI ketika waktunya tepat yaitu mulai 6 bulan.

Tabel 3. Rekomendasi Pemberian Makanan Bayi
Mulai menyusui
Dalam waktu 30-60 menit setelah melahirkan.
Menyusui eksklusif
Umur 0-6 bulan pertama.
Makanan pendamping ASI (MPASI)
Mulai diberikan pada umur antara 4-6 bulan (umur yang tepat bervariasi, atau bila menunjukkan kesiapan neurologis dan neuromuskuler).
Berikan MP ASI
Pada semua bayi yang telah berumur lebih dari 6 bulan.
Teruskan pemberian ASI
Sampai anak berumur 2 tahun atau lebih.

Tabel 4. Jadwal Pemberian Makanan pada Bayi
Umur
Macam makanan
Pemberian selama 24 jam
1-2 minggu
3 mg s/d 3 bulan
3 bulan
4-5 bulan
6 bulan
7-12 bulan
ASI
Formula adaptasi
ASI atau
Formula adaptasi
ASI atau
Formula adaptasi
Jus buah
ASI atau
Formula adaptasi
Bubur susu
Jus buah
ASI atau
Formula adaptasi
Bubur susu
Jus buah
ASI atau
Formula adaptasi
Bubur susu
Nasi tim
Jus buah
Sesuka bayi
6-7 kali 90 ml
Sesuka bayi
6 kali 100-150 ml
Sesuka bayi
5 kali 180 ml
1-2 kali 50-75 ml
Sesuka bayi
4 kali 180 ml
1 x 40-50 g bubuk
1 kali 50-100 ml
Sesuka bayi
3 kali 180-200 ml
2 x 40-50 g bubuk
1 kali 50-100 ml
Sesuka bayi
2 kali 200-250 ml
2x 40- 50 g bubuk
1 x 40-50 g bubuk
1-2 kali 50-100 ml
Sumber: Ilmu Gizi Klinis Pada Anak, 2000
Berikut cara pengolahan makanan bagi bayi usia 6 bulan
ü  KARBOHIDRAT
     Jangan terpaku pada nasi putih saja. Biasakan anak konsumsi beragam sumber karbohidarat, seperti beras merah, kentang, ubi, singkong, mi, bihun maupun jagung.
Cara memasak: 
a.       Beras putih, ditanak atau ditim, yang penting, beras dimasak sampai matang dengan air secukuppnya agar tergelatinasi sempurna (pulen).
b.      Beras merah sebaiknya dicampur dengan beras putih agar pulen, karen beras merah lebih keras.
c.       Jagung direbus dengan sedikit air sekitar 10 menit, kemudian diolesi mentega, garam dan gula.
d.      Ubi, dikukus dan dibuat pure (dihaluskan).
ü  PROTEIN
     Bisa didapat dari daging-dagingan, ikan-ikanan, hati, udang, kerang, tempe dan tahu. Pilih sumber protein yang mudah, murah, enak maupun berkualitas tinggi seperti telur.
Cara memasak:
a.       Telur
Saat menggoreng jangan sampai warnanya kecokelatan karena kadar gizinya akan berkurang. Yang terbaik, telur direbus sampai matang (7-8 menit) atau masak cepat menggunakan sedikit minyak dan bisa dicampur dengan sayuran yang diiris halus.
b.      Ayam
Cara terbaik adalah dikukus untuk campuran soto, ditumis sebagai campuran cap cay, disup, digoreng sebentar setelah dibumbui (diungkep) atau digoreng sejenak menjadi ayam pop. Jangan lupa, buang kulit ayam karena mengandung minyak jenuh.
c.       Daging-dagingan
Protein pada daging justru harus dimasak dengan baik. Namun agar zat besi tidak terbuang, jangan masak daging terlalu lama. Sebaiknya ditim atau ditumis, karena itu potong tipis-tipis atau cincang. Berbagai olahan daging seperti bakso dan sosis, proteinnya tidak sebaik daging segar.  Selain itu juga mengandung zat aditif sehingga jangan terlalu sering dikonsumsi. Memasak bakso dan sosis sebaiknya ditumis, disup atau sebagai campuran cap cay dan bihun goreng. Jangan digoreng karena akan menambah kadar lemak yang sudah tinggi.
ü  VITAMIN DAN MINERAL
            Banyak terdapat pada sayuran dan buah-buahan. Semakin hijau waran sayuran, makin banyak vitaminya. Semakin kuning, merah, atau biru warna daging buah, vitaminya semakin kaya. 
Cara memasak sayur
:
a.       Vitamin A,D,E,K (terdapat pada bayam, wortel, daun singkong, kangkung, kacang panjang, katuk, sawi, jagung) larut dalam lemak. Jika dimasak bersama minyak goreng, seperti ditumis, jangan terlalu lama sebab vitaminnya akan habis.
b.      Vitamin C, B1, B2, B5, B12 (terdapat pada daun singkong, katuk, melinjo, sawi, kentang, seledri, kucai, kacang panjang, kol. Tomat) larut dalam air, karena itu jika direbus atau disup, jangan terlalu lama sebab vitamin akan habis.
c.       Rahasia merebus sayuran: masukkan sayur saat air sudah mendidih, bubuhi garam, angkat.
d.      Direbus maupun ditumis, pastikan sayur masih berwarna hijau, segar dan batangnya masih renyah.
e.       Hampir semua sayuran, khususnya bayam, harus langsung dimakan setelah dimasak. Jangan tunda lebih dari 2 jam. Selain vitaminnya rusak, dikhawatirkan ada reaksi kimia yang menyebabkan sayur tidak layak dimakan.
ü  Cara mengolah buah:
a.       Agar vitamin utuh sebaiknya buah dimakan langsung. Jika dijus, seratnya akan hilang, jika disetup, vitamin berkurang saat dipanaskan. Diolah menjadi es buah baik, tetapi kadar gula menjadi tinggi.
b.      Beberapa buah akan lebih banyak vitaminnya jika dimakan dengan kulitnya, seperti apel, pir dan anggur. Tetapi jika Anda khawatir terhadap sisa pestisida pada kulit apel, sebaiknya dikupas saja.

2.5  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian Makanan Pada Bayi
       Hal-hal yang perlu diperhatikan supaya pengaturan makan untuk bayi dan anak dapat berhasil dengan baik adalah sebagai berikut :
1.      Kerjasama ibu dan anak.
       Dimulai pada saat kelahiran bayi dilanjutkan sampai dengan anak mampu makan sendiri. Makanan hendaknya menyenangkan bagi anak dan ibu. Ibu yang tegang, cemas, mudah marah merupakan suatu kecenderungan untuk menimbulkan kesulitan makan pada anak.
2.      Memulai pemberian makan sedini mungkin.
       Pemberian makan sedini mungkin mempunyai tujuan menunjang proses metabolisme yang normal, untuk pertumbuhan, menciptakan hubungan lekat ibu dan anak, mengurangi resiko terjadinya hipoglikemia, hiperkalemi, hiperbilirubinemia dan azotemia.
3.      Mengatur sendiri.
       Pada awal kehidupannya, seharusnya bayi sendiri yang mengatur keperluan akan makanan. Keuntungannya untuk mengatur dirinya sendiri akan kebutuhan zat gizi yang diperlukan.
4.      Peran ayah dan anggota keluarga lain.
5.      Menentukan jadwal pemberian makanan bayi.
6.      Umur.
7.      Berat badan.
8.      Diagnosis dari penyakit dan stadium (keadaan).
9.      Keadaan mulut sebagai alat penerima makanan.
10.  Kebiasaan makan (kesukaan, ketidaksukaan dan acceptability dari jenis  makanan dan toleransi daripada anak terhadap makanan yang diberikan).
11.  Gaya hidup orang tua
12.  Kemiskinan
Ø  Faktor penyebab masalah gizi pada bayi
      Masalah gizi merupakan akibat dari berbagai faktor yang saling terkait. Terdapat dua faktor langsung yang mempengaruhi status gizi individu, yaitu faktor makanan dan penyakit infeksi, keduanya saling mempengaruhi. Faktor penyebab langsung pertama adalah konsumsi makanan yang tidak memenuhi prinsip gizi seimbang. Faktor penyebab langsung kedua adalah penyakit infeksi yang terkait dengan tingginya kejadian penyakit menular dan buruknya kesehatan lingkungan. 
      Faktor penyebab langsung pertama adalah konsumsi makanan yang tidak memenuhi jumlah dan komposisi zat gizi yang memenuhi syarat gizi seimbang yaitu beragam, sesuai kebutuhan, bersih, dan aman, misalnya bayi tidak memperoleh ASI eksklusif. Faktor penyebab langsung kedua adalah penyakit infeksi yang berkaitan dengan tingginya kejadian penyakit menular terutama diare dan penyakit pernapasan akut (ISPA). Faktor ini banyak terkait mutu pelayanan kesehatan dasar khususnya imunisasi, kualitas lingkungan hidup dan perilaku hidup sehat. Kualitas lingkungan hidup terutama adalah ketersediaan air bersih, sarana sanitasi dan perilaku hidup sehat seperti kebiasaan cuci tangan dengan sabun, buang air besar di jamban, tidak merokok , sirkulasi udara dalam rumah dan sebagainya.
      Faktor lain yang juga berpengaruh yaitu ketersediaan pangan di keluarga, khususnya pangan untuk bayi 0-6 bulan (ASI eksklusif) dan 6-23 bulan (MP-ASI), dan pangan yang bergizi seimbang khususnya bagi ibu hamil. Semuanya itu terkait pada kualitas pola asuh anak. Pola asuh, sanitasi lingkungan, akses pangan keluarga, dan pelayanan kesehatan, dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pendapatan, dan akses informasi terutama tentang gizi dan kesehatan.
      Selain itu, Indonesia merupakan negara yang cukup rawan terjadi bencana, dimana bayi dan ibu hamil termasuk korban bencana yang rentan terhadap masalah gizi. Masalah gizi yang biasa timbul adalah kurang gizi pada bayi dan anak berumur di bawah dua tahun (baduta), bayi tidak mendapatkan air susu ibu karena terpisah dari ibunya, dan semakin memburuknya status gizi kelompok masyarakat yang sebelum bencana memang dalam kondisi bermasalah. Kondisi ini diperburuk dengan bantuan makanan yang sering terlambat, tidak berkesinambungan, serta terbatasnya ketersediaan pangan lokal. Masalah tersebut diperburuk lagi dengan kurangnya pengetahuan dalam penyiapan makanan buatan lokal khususnya untuk bayi dan baduta.
      Anak usia 0-12 bulan merupakan kelompok yang rawan ketika harus mengalami situasi darurat, mengingat kelompok anak ini sangat rentan dengan perubahan konsumsi makanan dan kondisi lingkungan yang terjadi tiba-tiba.
      Intervensi gizi terhadap bayi yang menjadi korban bencana dapat dilakukan dengan cara bayi tetap diberi ASI. Apabila bayi piatu, bayi terpisah dari ibunya atau ibu tidak dapat memberikan ASI, upayakan bayi mendapat bantuan ibu susu/donor. Apabila tidak memungkinkan bayi mendapat ibu susu/donor, bayi diberikan susu formula dengan pengawasan atau didampingi oleh petugas kesehatan.

2.6  Pengaruh Status Gizi Seimbang Bagi Bayi
       Tumbuh kembang anak selain dipengaruhi oleh faktor keturunan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Adapun faktor lingkungan yang berpengaruh adalah masukan makanan (diet), sinar matahari, lingkungan yang bersih, latihan jasmani dan keadaan kesehatan. Pemberian makanan yang berkualitas dan kuantitasnya baik menunjang tumbuh kembang, sehingga bayi dapat tumbuh normal dan sehat/ terbebas dari penyakit.
       Makanan yang diberikan pada bayi dan anak akan digunakan untuk pertumbuhan badan, karena itu status gizi dan pertumbuhan dapat dipakai sebagai ukuran untuk memantau kecukupan gizi bayi dan anak. Kecukupan makanan dan ASI dapat dipantau dengan menggunakan KMS. Daerah diatas garis merah dibentuk oleh pita warna kuning, hijau muda, hijau tua, hijau muda dan kuning. Setiap pita mempunyai nilai 5 % perubahan baku. Diatas kurve 100 % adalah status gizi lebih. Diatas 80 % sampai dengan batas 100 % adalah status gizi normal, yang digambarkan oleh pita warna hijau muda sampai hijau tua.

2.7  Sistem Pencernaan Bayi
      Selama periode intrauterine janin “di beri makan” melalui sirkulasi plasenta memindahkan semua nutrient dari darah ibu langsung masuk ke sirkulasi janin, berupa bahan makanan yang siap untuk langsung digunakan. Sehingga janin tidak perlu mencerna dan mengabsorbsi, begitu pula dengan sistem pembuangan belum diperlukan kerena bahan sisa yang terbentuk, semua akan kembali ke dalam sirkulasi darah ibu.
Menjelang bayi dilahirkan, fungsi-fungsi saluran cerna dan ginjal berkembang sangat cepat. Pada akhir masa kehamilan janin menunjukan gerakan-gerekan menelan dan meminum cairan amonion begitu pula untuk kemampuan memproduksi dan mengkekskresi urine, walaupun ginjal janin masih berkembang dan belum memainkan peran vital.
Setelah bayi lahir, bayi harus memasukan makanan dari mulut, mencerna dan mengabsorbasinya, memfungsikan ginjal untuk mengeluarkan limbah metabolic, mempertahankan air dan hemeostatis elektrolit. Namun karena alat pencernaan dan sistem ekskresi belum berkembang sempurna, sehingga batas toleransi terhadap air, mineral keseluruhan dan spesifik sangat sempit dibandingkan dengan bayi yang berusia lebih tua, karena pada saat lahir sampai dengan beberapa bulan ginjal belum mampu mengkonsentersikan urine untuk mengeluarkan mineral yang memadai.
Pada saat bayi yang normal sanggup menghisap ASI. Bayi dapat menempatkan ASI di mulut bagian belakang dan kemudian menelannya. Fungsi menghisap dan menelan merupakan kemampuan yang vital bagi neonatus dan bayi selama bulan – bulan pertama kehidupannya. Jika makanan padat atau semi padat dimasukan kedalam mulut bayi biasanya secara sepontan akan ditolak. Sampai usia 4 -6 bulan gerakan lidah yang mendorong atau efleks menjulurkan lidah telah hilang dan bayi sudah dapat mengatur makanan semi padat. Selanjutnya usia 7 -9 bulan, gerakan gigitan yang ritmis mulai terlihat dan pada sat bersamaan dengan pertubuhan gigi pertama shehingga perkemangan kemampuan mengunyah dimualai.
Jadi, usia 4 -6 bulan pertama dalam kehidupan bayi normal merupakan tingkat perkembangan fungsional yang memberikan kesempatan pada bayi untuk dapat menerima diet yang esensial yang berbentuk cair, yang merupakan priode transisi dari diet janin dalam kandungan menuju makanan dewasa.
Pencernaan Hidrat Arang. Proses pencernaan makanan dimulai dari mulut ; selama mengunyah makanan bercampur dengan saliva yang memberikan kesempatan Amilase untuk mencerna pati. Meskipun amilase ditemukan pada saliva bayi. Tetapi tidak ada proses pencernaan hidrat arang dalam mulut atau esophagus selama bulan –bulan kehidupan.
Diperkirakan bayi yang lahir cukup bulan mempuyai aktivitas amilase 10% amilase orang dewasa, dan agaknya ini adalah aktivitas utama glukoamilase. Informasi sampai saat ini mengatakan bahwa amilase dari pangkereas tidak disekresi selama 3 bulan pertama usia bayi ; juga ditemukan hanya dalam kadar sangat rendah atau tidak ada sama sekali, sampai bayi berusia enam bulan. Namun terdap bukti bahwa bayi dapat mencerna pati sebelum usia 3 bulan, ini mungkin disebabkan oleh glukomilase, yang pada saat itu tidak aktif, namu dapat diaktifasikan oleh keberadaan dan sifat bahan makanan atau cairan enzim yang bekerja padanya. Walaupun belum terdapat bukti pencernaan pati dimungkinkan oleh amilase dari pancreas dari diproduksi karena adanya pati dalam usus halus.
Bayi muda membutuhkan suatu proses adaptasi untuk dapat mencerna pati, dan ini dapat berlangsung beberapa hari atau beberapa minggu dan proses tersebut mungin dapat menjelaskan mengapa terjadi gangguan pencernaan yang sering timbul terutama diare yang sering diderita oleh bayi muda yang diberi makan yang mengandung pati.
Diid pati dalam proporsi besar menyebabkan adanya pati yang tidak dapat dicerna, yang dapat mengakibatkan gangguan nutrien-nutrien lainya dan kemudian bayi mengalami gangguan pertumbuhan. Pada saat bayi lahir aktivitas disakaridase telah berkembang penuh. Ada 2 disakaridase, yaitu Delta Glukosidase yang menghidrolisis sukrosa dan maltosa dan Beta Glukosidase yang menghidrolisis laktosa yang pada saat lahir mempunyai kadar aktvitas yang sama dengan kadar pada bayi yang berusia lebih tua. Dengan demikian, pada usia itu tidak ada masalah bagi bayi dalam pencernaan dan pemanfaatan gula yang terkandung dalam susu.
Protein. Sekresi asam hidroklorat dan pepsin lambung berkembang baik pada neonatus cukup bulan, tetapi konsenterasi masih rendah dan akan cepat meningkat pada bulan - bulan pertama kehidupannya. Pencernaan utama protein adalah berlangsung di usus halus, tetapi karena bayi muda mempunyai beberapa kesulitan dalam mencerna protein, seperti kasien, aktivitas lambung bisa menjadi sangat penting sebagai sarana untuk memulai pencernaan karena kapasitas bayi untuk mencerna protein, sebenarnya telah berkembang sempurna sejak lahir. Sekalipun demikian masukan protein tinggi harus dihindari terutama bayi premature dan yang masih sangat muda, karena beban ginjal terhadap kepekatan cairan (Renal Solute Lood) yang sangat berlebihan akan menyebabkan gangguan keseimbangan asam – basa dan menyebabkan Asidoses Metabolic.
Lemak. Selama priode intrauterine, glukosa merupakan sumber utama untuk perkembanggan janin. Tetapi setelah lahir lemak menjadi sumber energy utama yang sangat penting, dekitar 40 – 50 % energy yang terkandung dalam ASI terbentuk sebagai lemak. Pada bayi baru lahir yang cukup bulan fungsi pangkreas dan fungsi hati belum berkembang dengan sempurna. Oleh kerena itu konsenterasi lipase pancreas dan garam empedu masih sangat rendah. Namun bayi muda sanggup mengasorbsi lemak cukup adekwat, terutama dari ASI. Pencernaan dan penyerapan lemak pada bayi muda ini dipacu oleh adanya aktivitas lipase lingual dan aktivitas lipase yang terdapat dalam ASI.
Lipase lingual disekresi oleh papil-papil pada bagian posterior lidah yang mulai bekerja jika sudah dilambung dan produk lipopisisnya (asam lemak dan monogliserida) akan berperan dalam emulsifikasi campuran lemak tersebut sehingga bayi dapat mengimbangi keadaan garam empedu yang tersedian masih rendah. Lipopisis praduodenal pada bayi muda akan dilengkapi oleh lipase yang terdapat dalam ASI. Lipase dalam ASI juga mempunyai aktivitas esterase, hal ini sangat vital untuk memanfaatkan viatamin A yang berupa ester-ester retinol, yang terdapat dalam ASI.
Jadi meskipun fungsi hati dan pankreas belum matang, bayi muda telah dilengkapi dengan kemampuan untuk dapat memanfaatkan, baik lemak dalam ASI, maupun komponen
-komponen ASI yang larut dalam lemak, tetapi pemanfaatan lemak akan kurang efisien jika susu sapi dan lemak lainnya yang diperkenalkan pada diet bayi muda.
Vitamin dan Mineral. Dalam kehidupan awal bayi tampaknya tidak ada masalah yang besar dalam pemanfaatan vitamin dan mineral. Absorbsi vitamin yang larut dalam lemak berhubungan erat dengan absorbsi lemak.
Zat besi absorbsinya jauh lebih tinngi pada bayi dari pada anak dan orang dewasa. Ini berhubungan erat dengan kebutuhan mineral yang lebih banyak pada awal kehidupan. Nilai biologis zat besi pada ASI jauh lebih dari pada susu sapi atau zat besi yang ditambahkan dalam makanan. Nilai biologis zat besi dalam ASI akan menurun dengan drastis apabila makanan pelengkap yang padat dan yang berasal dari sayur – sayuran diberikan pada bayi yang mendapat ASI.

2.8  Dampak Kekurangan Dan Kelebihan Gizi Pada Bayi
Makanan yang ideal harus mengandung cukup energi dan zat esensial sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Pemberian makanan yang kelebihan akan energi mengakibatkan obesitas, sedang kelebihan zat gizi esensial dalam jangka waktu lama akan menimbulkan penimbunan zat gizi tersebut dan menjadi racun bagi tubuh. Misalnya hipervitaminosis A, hipervitaminosis D dan hiperkalemi.
Sebaliknya kekurangan energi dalam jangka waktu lama berakibat menghambat pertumbuhan dan mengurangi cadangan energi dalam tubuh sehingga terjadi marasmus (gizi kurang/buruk). Kekurangan zat esensial mengakibatkan defisiensi zat gizi tersebut. Misalnya xeroftalmia (kekurangan vit.A), Rakhitis (kekurangan vit.D).
Jika dikaji secara mendalam penyakit kekurangan gizi disebabkan karena tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gisi esensial. Selain itu, adanya ketidakseimbangan asupan zat-zat gizi, faktor penyakit pencernaan, absorbsi, dan penyakit infeksi. Dampak dari penyebab semua ini akan berlanjut pada penyakit akut maupun kronik. Adapun penyakit yang dimaksud adalah:
1.        Berat bayi lahir rendah (BBLR)
       Kelompok masyarakat yang paling menderita akibat dampak krisis ekonomi terhadap kesehatan adalah ibu. Kesehatan ibu ini akhirnya akan mempengaruhi kualitas bayi yang dilahirkan dan anak yang dibesarkan. Bayi dengan berat lahir rendah merupakan salah satu dampak dari ibu hamil yang menderita kurang energi kronis dan akan mempunyai statuz gizi buruk. BBLR berkaitan dengan tingginya angka kematian bayi dan balita, juga berdampak serius terhadap kualitas generasi mendatang yaitu akan memperlambat pertumbuhan dan perkembangan mental anak,serta berpengaruh pada penurunan IQ.
2.        Gangguan pertumbuhan
       Telah disebutkan diatas bahwa status gizi yang buruk akan menyebabkan gangguan pertumbuhan. Dalam teori pertumbuhan ada banyak jenis yang perlu dibahas seperti mental, fisik, sosial, spritual, dan budaya. Sehingga jika status gizi buruk tidak ditangani secara intensif maka generasi akan cenderung mengalami gangguan mental, fisik, sosial, spritual, dan budaya. Tapi yang paling berpengaruh adalah gangguan perilaku dan fungsi otak. Generasi akan mengalami kebodohan dan isolasi sosial hingga akhirnya bunuh diri.
3.        Kurang Energi Kronis (KEK)
       KEK adalah keadaan ibu yang menderita keadaan kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis) sehingga mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu. KEK dapat terjadi pada wanita usia subur (WUS) dan Ibu hamil (bumil). Tentunya selang waktu dari KEK ini cukup lama. Karena mulai dari usia subur dengan status gizi buruk akan berdampak pada rahimnya kemudian berdampak pada kehamilannya dan akhirnya berdampak pada janinnya, masa persalinan sampai bayi dan anaknya yang akan tumbuh secara terus menerus dengan disertai gangguan dan hambatan.
4.        Gangguan pertahanan tubuh
       Status gizi yang kurang menyebabkan daya tahan tubuh terhadap tekanan atau stres menurun. Sistem imunitas dan antibodi berkurang, sehingga seseorang mudah terserang infeksi seperti pilek, batuk, diare,. Pada usia balita, keadaan ini akan mengakibatkan kematian.


BAB III
PENUTUP

3.1    Simpulan 
Makanan terbaik bagi bayi adalah ASI. Namun, dengan bertambahnya umur bayi dan tumbuh kembang, bayi memerlukan energi dan zat-zat gizi yang melebihi jumlah ASI. Untuk itu bayi yang berumur 6 bulan di anjurkan untuk mengkonsumsi bubur tim dengan cara pengolahan dan ragam sayuran/buah yang telah disebutkan di atas.

3.2  Saran
1)        Mahasiswa diharapkan agar mengetahui tentang penyelesaian masalah bidan terhadap intranatal care.
2)        Mahasiswa diharapkan dapat melakukan tindakan secara aman dan mandiri pada saat menghadapi intranatal care .




DAFTAR PUSTAKA

Marimbi,Hanum. 2010. tumbuh kembang, status gizi dan imunisasi dasar pada balita. Yogyakarta : Nuba Medika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE PADA DEWASA A.      DEFINISI ·          Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau t...