Kamis, 06 Juni 2013

Asuhan Kebidanan Patologi Ketuban Pecah Dini




DAFTAR ISI

Halaman judul............................................................................................................
Kata pengantar...........................................................................................................
Daftar isi....................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................
1.1  Latar belakang.....................................................................................................
1.2  Rumusan masalah................................................................................................
1.3  Tujuan..................................................................................................................
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................
2.1 Definisi................................................................................................................
2.2 Etiologi................................................................................................................
2.3 Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini...........................................................
2.4 Patofisiologi.........................................................................................................
2.5 Diagnosa..............................................................................................................
2.6 Komplikasi...........................................................................................................
2.7 Penatalaksanaan...................................................................................................
2.8 Peran  Bidan Menghadapi KPD..........................................................................
BAB III PENUTUP..................................................................................................
3.1 Kesimpulan..........................................................................................................
3.2 Saran....................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

KPD merupakan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan kurang bulan, dan mempunyai kontribusi yang besar pada angka kematian perinatal pada bayi yang kurang bulan. Pengelolaan KPD pada kehamilan kurang dari 34 minggu sangat komplek, bertujuan untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya prematuritas dan RDS.
Beberapa peneliti melaporkan hasil penelitian mereka dan didapatkan hasil yang bervariasi. Insidensi KPD berkisar antara 8 - 10 % dari semua kehamilan. Hal yang menguntungan dari angka kejadian KPD yang dilaporkan, bahwa lebih banyak terjadi pada kehamilan yang cukup bulan dari pada yang kurang bulan, yaitu sekitar 95 % , sedangkan pada kehamilan tidak cukup bulan atau KPD pada kehamilan preterm terjadi sekitar 34 % semua kekahiran prematur.
Pengelolaan Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah yang masih kontroversial dalam kebidanan. Pengelolaan yang optimal dan yang baku masih belum ada, selalu berubah. KPD sering kali menimbulkan konsekuensi yang dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi terutama kematian perinatal yang cukup tinggi. Kematian perinatal yang cukup tinggi ini antara lain disebabkan karena kematian akibat kurang bulan, dan kejadian infeksi yang meningkat karena partus tak maju, partus lama, dan partus buatan yang sering dijumpai pada pengelolaan kasus KPD terutama pada pengelolaan konservatif .
Dilema sering terjadi pada pengelolaan KPD dimana harus segera bersikap aktif terutama pada kehamilan yang cukup bulan, atau harus menunggu sampai terjadinya proses persalinan, sehingga masa tunggu akan memanjang berikutnya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Sedangkan sikap konservatif ini sebaiknya dilakukan pada KPD kehamilan kurang bulan dengan harapan tercapainya pematangan paru dan berat badan janin yang cukup.
Ada 2 komplikasi yang sering terjadi pada KPD, yaitu : pertama, infeksi, karena ketuban yang utuh merupakan barier atau penghalang terhadap masuknya penyebab infeksi. Dengan tidak adanya selaput ketuban seperti pada KPD, flora vagina yang normal ada bisa menjadi patogen yang akan membahayakan baik pada ibu maupun pada janinnya. Oleh karena itu membutuhkan pengelolaan yang agresif seperti diinduksi untuk mempercepat persalinan dengan maksud untuk mengurangi kemungkinan resiko terjadinya infeksi ; kedua, adalah kurang bulan atau prematuritas, karena KPD sering terjadi pada kehamilan kurang bulan. Masalah yang sering timbul pada bayi yang kurang bulan adalah gejala sesak nafas atau respiratory Distress Syndrom (RDS) yang disebabkan karena belum masaknya paru.
Protokol pengelolaan yang optimal harus memprtimbangkan 2 hal tersebut di atas dan faktor-faktor lain seperti fasilitas serta kemampuan untuk merawat bayi yang kurang bulan. Meskipun tidak ada satu protokol pengelolaan yang dapat untuk semua kasus KPD, tetapi harus ada panduan pengelolaan yang strategis, yang dapat mengurangi mortalitas perinatal dan dapat menghilangkan komplikasi yang berat baik pada anak maupun pada ibu.


1.2  Rumusan Masalah

Apa yang dimaksud dengan ketuban pecah dini?
Apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini?
Bagaimana mekanisme terjadinya ketuban pecah dini?
Bagaimana patofisiologi dari ketuban pecah dini ?
Apa saja yang perlu diperiksa untuk menegakkan diagnosa ketuban pecah dini?
Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi dari ketuban pecah dini?
Bagaimana penatalaksanaan dari ketuban pecah dini?
Apa peran bidan dalam menghadapi ketuban pecah dini?


1.3  Tujuan

Mengetahui  tentang definisi ketuban pecah dini
Mengetahui  tentang factor penyebab ketuban pecah dini
Mengetahui  tentang mekanisme terjadinya ketuban pecah dini
Mengetahui tentang patofisiologi dari ketuban pecah dini
Mengetahui  tentang cara penegakan diagnosa ketuban pecah dini
Mengetahui tentang  komplikasi dari ketuban pecah dini
Mengetahui tentang penatalaksanaan ketuban pecah dini
Mengetahui tentang peran bidan dalam menghadapi ketuban pecah dini




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum ada tanda-tanda persalinan(Kapita Selekta Kedokteran hal:310)
Ketuban Pecah Dini yaitu apabila ketuban pecah spontan dan tidak diikuti tanda-tanda persalinan
Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan(Sarwono prawirohardjo,hal:677)
Ketuban Pecah Dini adalah satu jam ketuban pecah tidak disertai tanda tanda inpartu(Materi kuliah obstetric fisiologi:dr Sutoko Andrianto,SpOG)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan(Ilmu Kebidanan & KB Untuk Pendidikan Bidan,hal:229)


2.2 Etiologi

Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti.Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD, namun faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang menjadi faktor predesposisi adalah:
1.      Infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.
2. Grandemultipara,semakin sering wanita melahirkan kekuatan otot rahim juga akan berkurang,demikian pula dengan asupan nutrisinya akan diperlukan lebih banyak untuk pembentukan selaput ketuban ataupun organ yang lainnya.
      3.  Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan (overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemelli. Trauma oleh beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab terjadinya KPD. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam, maupun amnosintesis menyebabakan terjadinya KPD karena biasanya disertai infeksi.
    4. Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah.
    5.CPD,ketidak sesuaian ukuran janin dengan panggul akan menyebabkan komplikasi salah satunya KPD


2.3 Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini

-Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi
-Bila terjadi pembukaan servik maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban
Faktor predisposisi:
1.Infeksi
2.Grandemultipara
3.Tekanan intrauterine
4.Kelainan letak
5.CPD
 
 

2.4 Patofisiologi




















Selaput ketuban tidak kuat
 












Ketuban pecah
 
 











2.5 . Diagnosa

Menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat penting. Karena diagnosa yang positif palsu berarti melakukan intervensi seperti melahirkakn bayi terlalu awal atau melakukan seksio yang sebetulnya tidak ada indikasinya. Sebaliknya diagnosa yang negatif palsu berarti akan membiarkan ibu dan janin mempunyai resiko infeksi yang akan mengancam kehidupan janin, ibu atau keduanya. Oleh karena itu diperlukan diagnosa yang cepat dan tepat. Diagnosa KPD ditegakkan dengan cara :
1. Anamnesa
Penderita merasa basah pada vagina, atau mengeluarkan cairan yang banyak secara tiba-tiba dari jalan lahir atau ngepyok.Cairan berbau khas, dan perlu juga diperhatikan warna, keluanya cairan tersebut tersebut his belum teratur atau belum ada, dan belum ada pengeluaran lendir darah.
2. Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina, bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak, pemeriksaan ini akan lebih jelas.
3. Pemeriksaan dengan spekulum.
pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan dari orifisium uteri eksternum (OUE), kalau belum juga tampak keluar, fundus uteri ditekan, penderita diminta batuk, megejan atau megadakan manuvover valsava, atau bagian terendah digoyangkan, akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada fornik anterior.
4. Pemeriksaan dalam
Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi. Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan tocher perlu dipertimbangkan, pada kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam. Karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina yang normal. Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan dalam vagina hanya diulakaukan kalau KPD yang sudah dalam persalinan atau yang dilakukan induksi persalinan dan dibatasi sedikit mungkin.
5. Pemeriksaan Penunjang
*      Pemeriksaan laboraturium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau dan pH nya. Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau sekret vagina. Sekret vagina ibu hamil pH : 4-5, dengan kertas nitrazin tidak berubah warna, tetap kuning.
a. Tes Lakmus (tes Nitrazin), jika krtas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air ketuban 7 – 7,5, darah dan infeksi vagina dapat mengahsilakan tes yang positif palsu
b. Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.
*      Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun sering terjadi kesalahan pada penderita oligohidromnion
Walaupun pendekatan diagnosis KPD cukup banyak macam dan caranya, namun pada umumnya KPD sudah bisa terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan sederhana.


2.6 Komplikasi

1. Infeksi
Risiko infeksi ibu dan anak meningkat pada KPD.Pada ibu terjadi korioamnionitis.Pada bayi dapat terjadi septicemia,pneumoni,omfalitis.Umumnya terjadi korioamnionitis sebelum janin terinfeksi.Pada KPD prematus infeksi lebih sering dari pada aterm.
2. Tali pusat menumbung
Dinyatakan terjadi tali pusat menumbung bila dalam persalinan pada waktu ketuban telah pecah,tali pusat terdapat didepan atau disamping bagian janin yang terendah
3. Partus kering
KPD menyebabkan berkurangnya jumlah air ketuban,yang mana air ketuban juga berperan dalam kelancaran proses persalinan.KPD yang tidak segera diatasi lama kelamaan akan menyebabkan jalan lahir menjadi kering.
4.Gawat janin karena hipoksia atau asfiksi
Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga terjadi asfiksi atau hipoksia.Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan derajat oligohidramnion,semakin sedikit air ketuban,janin semakin gawat
5.Persalinan premature
Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul persalinan .Periode laten tergantung UK.Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24jam setelah ketuban pecah.Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan dalam 24jam.Pada kehamilan kurang dari 26 minggu terjadi dlam 1 minggu.
6.Kelainan congenital/sindrom deformitas janin
KPD yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin terhambat kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin.


2.7 Penatalaksanaan

Ketuban pecah dini pada kehamilan aterm maupun preterm dengan atau tanpa komplikasi hatus dirujuk ke RS.
Bila janin hidup dan terdapat prolaps tali pusat pasien dirujuk dengan posisi panggul lebih tinggi dari badannya bila mungkin dengan posisi bersujud.Kalau perlu kepala janin didorong keatas dengan 2jari agar tali pusat tidak tertekan kepala janin .Tali pusat divulva dibungkus kain hangat yang dilapisi plastic .
Bila ada demam atau dikawatirkan terjadi infeksi saat rujukan atau ketuban pecah  lebih dari jam berikan antibiotic seperti penicillin prokain 1,2 juta IU im,dan ampisillin 1gr per oral.
Bila keluarga pasien menolak dirujuk pasien disuruh istirahat dengan posisi terbaring miring,berikan antibiotic penissilin prokain 1,2 juta IU im tiap 12jam dan ampisillin 1gr per oral diikuti 500mg tiap 6jam aau eritromissin dengan dosis yang sama.
Pada kehamilan kurang dari 32 minggu dilakukan tindakan konservatif yaitu tirah baring diberikan sedative berupa fenobartital 3x30mg .Berikan antibiotic selama 5 hari da glukokortikosteroid,contoh dexametason 3x5 mg selama 2 hari.Berikan pula tokolisis.Bila terjadi infeksi,akhiri kehamilan.
Pada kehamilan 33-35 minggu lakukan terapi konservatif selama 24jam lalu induksi persalinan.Bila terjadi infeksi,akhiri kehamilan.
Pada kehamilan lebih dari 36 minggu,bila ada his pimpin meneran dan lakukan akselerasi bila ada inersia uteri.Bila tidak ada his lakukan induksi persalinan bila ketuban pecah kurang dari 6jam dan skor pelvic kurang dari 5 atau ketuban pecah lebih dari 6jam dan skor pelvic lebih dari 5,SC bila ketuban pecah kurang dari 5jam dan skor elvik kurang dari 5.


2.8 Peran Bidan menghadapi KPD

Bidan sebagai tenaga medis terlatih yang ditempatkan di tengah masyarakat seyogyanya bertindak konservatif artinya tidak terlalu banyak melakukan intervensi.Dengan akibat tingginya angka kesakitan dan kemayian ibu/bayi-janin,maka sikap yang paling penting adalah melakukan rujukan sehingga penanganan KPD mendapat tindakan yang tepat.
Setelah mendapatkan penanganan sebagaimana mestinya bidan dapat melakukan pengawasan setelah tindakan  dan disertai beberapa petunjuk khusus

 
BAB III
PENUTUP
 
3.1 Kesimpulan

KPD merupakan salah satu kegawatdaruratan dalam obstetric.
Ketuban Pecah Dini yaitu apabila ketuban pecah spontan dan tidak diikuti tanda-tanda persalinan.Ketuban pecah  dini merupakan salah satu factor penyebab kematian ibu dan janin.Penatalaksanaan KPD tergantung pada usia kehamilan dan ada atau tidaknya infeksi.

3.2 Saran

“Tiada gading yang tak retak”, itulah kalimat yang dapat kami ucapkan. Karena itu kami dengan lapang dada menerima segala kritik ataupun saran untuk menyempurnakan makalah ini. Semoga materi ini dapat menambah wawasan kita mengenai ketuban pecah dini



DAFTAR PUSTAKA


1. Yancey .M.K., Prelabor Rupture of Membrane at Term : Inducce or Wait?, medscape General Medicine 1 (1), 1999
2. Parry.S, Strauss.J.F, Premature Rupture of the Fetal Membrane dalam The New England Jurnal of medicine, Volume 338:663-670, March, 1998
3. Hacker.N.F., Moor J.George.2001.Ketuban Pecah Dini dalam Esensial Obstetri dan Ginekologi, Jakarta:edisi 2 hipocrates
4. Syaifuddin.A.B., Ketuban Pecah Dini dalam Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,2002.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo Bekerjasama dengan Jaringan Nasional Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi – POGI
5. Komite Medik RSUP DR.Sardjito.1999.Ketuban Pecah Dini dalam Standar Pelayanan medis RSUP DR. Sardjito.Yogyakarta:Buku I,Medika Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada
6. Phupong.V.2003.Prelabour Rupture of Memnranes in Journal of Pediatric, Obstetric and Gynaecology, Nov/Dec,Hal : 25 – 31
7. Manuaba.I.B.G..2001. Ketuban Pecah Dini dalam Kapita Selekta Penatalaksanaan Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta:EGC
8. Mokhtar.R..1994. Ketuban Pecah Dini dalam Sinopsis Obsteri, Obstetri Fisologi Obstetri Patologi I.Jakarta:EGC
9.                  .2001.Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta:Media Aesculapius UI
10.Saifudin A B.2009.Ilmu Kebidanan.Jakarta:YBPSP