Minggu, 28 Juli 2013

Makalah Askeb Patologi Tentang Infeksi Toksoplasmosis

ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGI
TENTANG
INFEKSI TOKSOPLASMOSIS

KATA PENGANTAR

Dengan iringan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkatNya kami dapat menyelesaikan tugas Asuhan Kebidanan Patologi“infeksi Toksoplasmosis” dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Kami berharap makalah ini dapat memotivasi mahasiswa untuk giat belajar dan menambah pengetahuan tentang pengaruh infeksi toksoplasmosis terhadap kehamilan. Dengan terselesaikan makalah ini, kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang turut membantu proses penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh lagi dari sempurna. Oleh karena itu, kami sebagai penyusun mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca agar penyusunan berikutnya dapat tersusun dengan labih baik.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penyusun dan pembaca pada umumnya.



                                                                                                            Senin, 23 April 2012

 
Penulis



DAFTAR ISI
JUDUL
KATA PENGANTAR.................................................................      i          
DAFTAR ISI...............................................................................      ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang.............................................................................      
1.2 Rumusan Masalah.............................................................           
1.3 Tujuan..............................................................................
BAB II   PEMBAHASAN
2.1 Definisi Toksoplasmosis..........................................................
2.2 Etiologi Toksoplasmosis..........................................................
2.3 Patofiologi Toksoplasmosis.....................................................
2.4 Tanda dan gejala dari Toksoplasmosis....................................
2.5 Pengaruh toksoplasmosis terhadap kehamilan.........................
2.6 Diagnosis Toksoplasmosis.........................................................
2.7 Penatalaksanaan infeksi Toksoplasmosis.................................     
2.8 Pencegahan terhadap toksoplasmosis......................................
BAB III  PENUTUP   
  A.Kesimpulan..........................................................................
B. Saran.................................................................................
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Toksoplasmosis merupakan penyebab utama ketiga kematian karena makanan di AS. Kurang lebih 1 dari 1000 kehamilan terinfeksi setiap tahun. Apabila wanita terinfeksi pada masa, hamil toksoplasmosis dapat menyebabkan malformasi konginetal  berat karena protozoa ini dapat menembus melalui plasenta ke janin. Infeksi yang terjadi pada usia kehamilan kurang dari 8 minggu diperkirakan hanya 5 persen. Angka ini meningkat hingga mencapai 80 persen seiring peningkatan usia kehamilan. Namun, kasus yang paling berat justru terjadi pada akhir trimester pertama. Sejumlah besar bayi tidak menunjukkan gejala infeksi menjelang kelahirannya. Namun, sepanjang masa kanak-kanak muncul kejang, defisit motorik dan kognitif, serta retardasi mental. Efek yang paling parah adalah anomali otak, misal, anensefali, hidrosefalus, mikrosefali, dan pengapuran intrakranial.
Bagi bidan, aspek terpenting yang perlu diperhatikan untuk menangani kasus toksoplasmosis adalah pengkajian riwayat secara menyeluruh dan upaya pencegahan melalui penyuluhan tentang perencanaan kehamilan dan perawatan kehamilan bagi mereka yang sudah hamil.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apakah definisi toksoplasmosis?
2.      Bagimana Etiologi toksoplasmosis?
3.      Bagaimana patofisiologi dari toksoplasmosis?
4.      Bagaimana Tanda dan gejala dari toksoplasmosis?
5.      Bagaimana pengaruh toksoplasmosis terhadap kehamilan?
6.      Bagaimana diagnosis dari toksoplasmosis?
7.      Bagaimana penatalaksanaan terhadap toksoplasmosis?
8.      Bagaimana upaya pencegahan terhadap toksoplasmosis?

1.3  Tujuan
·        Untuk mengetahui infeksi toksoplasmosis terhadap kehamilan.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
            Toksoplasmosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit intrasel Toksoplasma gondii. Protozoa ini banyak terdapat pada anjing,kucing,tikus dan binatang lainnya. Protozoa ini dapat menular melalui makanan mentah,atau kurang masak yang tercemar ekskreta kucing yang terinfeksi.

2.2 Etiologi
            Toksoplasmosis disebabkan oleh toksoplasmosis gondii dan banyak terdapat pada anjing,kucing,dan binatang lainnya. Penularan dapat melalui makanan mentah atau kurang masak,yang tercemar ekskreta kucing yang terinfeksi. Walaupun makan daging yang kurang matang merupakan cara transmisi yang penting untuk T.gondii ,transmisi melalui ookista tidak dapat diabaikan. Seekor kucing dapat mengeluarkan sampai 10 juta butir ookista sehari selama 2 minggu. Ookista menjadi matang dalam waktu 1-5 hari dan dapat hidup lebih dari setahun di tanah yang panas dan lembab. Ookista mati pada suhu 45ᵒ-55ᵒ C,juga mati bila dikeringkan atau bila bercampur formalin,ammonia ,atau larutan iodium. Tranmisi melalui bentuk ookista menunjukkan infeksi T.gondii pada orang yang tidak senang makan daging atau terjadi pada binatang herbivore.

2.3 Patofisiologi
            Toksoplasma gondii mempunyai tiga fase dalam hidupnya. Dua fase yang pertama menyebabkan infeksi dalam tubuh pejamunya-hewan dan manusia yang menelannya. Fase ketiga adalah fase seksual (memperbanyak diri).
            Keadaan parasitemia yang ditimbulkan oleh infeksi maternal menyebabkan parasit dapat mencapai plasenta. Selama invasi dan menetap di plasenta  parasit berkembang biak serta sebagian yang lain behasil memperoleh akses ke sirkulasi janin. Telah diketahui adanya kolerasi antara isolasi toksoplasma di jaringan plasenta dan infeksi neonates,artinya bahwa hasil isolasi positif di jaringan plasenta menunjukkan terjadinya infeksi pada neonates dan sebaliknya hasil nisolasi negative menegaskan infeksi neonates tidak ada.
            Berdasarkan hasil pemeriksaan otopsi neonatus yang meninggal dengan toksoplasmosis kongenital ini disusun suatu konsep bahwa infeksi yang diperoleh janin dalam uterus terjadi melalui aliran darah serta infeksi akibat toksoplasmosis merupakan tahapan penting setelah fase infeksi maternal dan sebelum terinfeksinya janin.

2.4 Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala pada toksoplasmosis
1.      Letih dan malaise
2.      Nyeri otot
3.      Demam
4.      Luka tenggorok
5.      Pembesaran kelenjar limfe pada serviks posterior
6.      Pnemonia, polimiositis, dan miokarditis
7.      Limfangitis

2.5 Pengaruh terhadap kehamilan
·        Penyakit dapat menular kepada janin dengan akibat: abortus, partus pre maturus, dan kematian janin dalam rahim serta meniggikan kematian neonatal. Dapat terjadi cacat bawaan: hidrosefalus, mikrosefalus, anensefalus, meningo-ensefalitis dan kelainan pada mata. Bahkan bisa menyebabkan hidrops.
·        Pengobatan yang tepat belum diketahui. Obat-obat yang diberikan adalah kemasan-kemasan sulfat.

2.6 Diagnosis
Toksoplasma konginital ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan yang menunjukkan adanya IgM janin spesifik (antitoksoplasma) dari darah janin. Ditemukan parasit pada kultur ataupun inokulasi tikus dan D.N.A dari T.gondii dengan P.C.R darah janin ataupun cairan ketuban.
Beberapa faktor yang harus diperhatikan karena sangat menentukan agar upaya diagnostik pranatal menjadi aman, terpecaya, dan efisien adalah sebagai berikut.
·        Didahului oleh skrining serologik maternal/ ibu hamil, hasilnya harus memenuhi kriteria tertentu sebelum dilanjutkan ke prosedur diagnostik pranatl. Jika satu dari syarat dubawah ini terpenuhi, akan dilakukan kordosintesis atau amniosintesis atau amniosintesis.
-          Antibodi IgM +
-          Serokonversi dengan interval waktu 2 sampai 3 minggu, perubahan dari seronegatif menjadi seropositif IgM dan IgG
-          Titer IgG yang tinggi >1/1024 (ELISA)
-          Aviditas IgG <200
·        Keterampilan klinisi melakukan kordosintesis atau amniosintesis dengan tuntunan ultrasonografi
·        Kecermatan dan keterampilan yang terlatih dalam mengerjakan pekerjaan rumit dan khusus di laboratorium di antaranya meliputi kultur, inokulasi, teknik ELISA, dan P.C.R

2.7 Penatalaksanaan
1.      Konseling yang berkaitan dengan infeksi toksoplasma,risiko terhadap fungsi reproduksi dan hasil konsepsi.
2.      Setiap wanita hamil yang dicurigai terinfeksi toksoplasma perlu segera dirujuk untuk menjalani pemeriksaan ultrasonografi dan mendapat penatalaksanaan medis. Tujuan pemeriksaan ultrasonografi ialah mendeteksi anomali  janin,hepatomegali,asites atau kelainan intracranial. Cairan amnion dan darah janin  dapat digunakan sebagai sampel untuk memastikan infeksi pada janin.
3.      Pemeriksaan serum yang harus dilakukan adalah igM dan igG dan diulang dalam 3 minggu. I nfeksi dini akan ditunjukkan oleh nilai igM yang tinggi atau menin gkat,sedangkan igG bervariasi dari negative hingga positif. Upayakan tes ini dilakukan di laboratorium rujukan yang diakui keakuratannya.
4.      Dapat dilakukan pengobatan secara rawat jalan.
5.      Selama kehamilan ibu diterapi dengan spiramisin atau setelah kehamilan 14 minggu ibu diberi terapi dengan pirimethamin dan sulfonamida atau antibiotika spiramisin dapat menanggulangi infeksi dan menghambat kelanjutan proses anomali kongenital(tergantung tahapnya).
6.      Evaluasi kondisi antigen dan titer immunoglobulin anti toksoplasma.
7.      Upayakan persalinan pervaginam dan apabila terjadi disporporsi kepala panggul yang disebabkan oleh hidrosefalus,lakukan kajian ultrasonografi ketebalan korteks untuk pilihan penyelesaian persalinan.

2.8 Pencegahan
1.      Untuk mencegah toksoplasmosis dan penyakit menular melalui makanan lain,makanan harus dimasak pada suhu yang aman.
Gunakan temperatur untuk mengukur suhu bagian dalam dagi ng yang sedang dimasak. Tujuannya adalah memastikan daging dimasak sempurna. Daging sapi,domba,kerbau,dan steak,harus dimasak sampai suhu 62,8 . Daging babi,ground meat,dan wild game harus dimasak hingga suhu 71 . Sementara daging unggas harus dimasak hingga suhu 82 .
2.      Sayur dan buah-buahan harus dikupas dan dicuci menyeluruh sebelum dimakan.
3.      Telanan,piring,dan gelas kotor,meja makan,dan tangan harus dicuci dengan air sabun ha ngat setiap kali selesai kontak dengan daging,daging unggas,makanan laut,atau buah atau sayuran yang belum dicuci.
4.      Wanikta hamil harus mengenakan sarung tangan jika hendak berkebun,sebab kotoran kucing bias saja terdapat di tanah atau pasir. Setiap kali sel;esai kontak dengan tanah atau pasir,mereka harus membasuh tangan mereka dengan sbun dan air secara menyeluruh.
5.      Sedapat mungkin wanita hamil tidak membersihkan wadah kotoran kucing,kalaupun terpaksa,kenakan sarung tangan kemudian cuci tangan dengan menyeluruh. Bnersihka n wadah kotoran kucing setiap hari sebab oosit toksoplasma setelah beberapa hari menjadi menular. Wanita hamil juga disarankan mengurung kucing peliharaannya dan tidak mengambil atau menggendong kucing jalanan. Selain itu.kucing hanya boleh diberi makanan kaleng atau makanan khusus yang dijualk dipasaran atau makanan yang dimasak sempurna,bukan daging mentah atau makan yang tidak dimasak sempurna.
6.      Pendidikan kesehatan bagi wanita usia subur mencakup informasi tentang mekanisme penularan toksoplasmosis melalui daging dan tanah terinfeksi serta pencegahannya. Para petugas kesehatan harus member pendidikan kepada wanita hamil pada kunjungan prenatal pertamanya,yang mencakup kebersihan makanan dan pencegahan pajanan pada kotoran kucing.


BAB III
PENUTUP

3.1Kesimpulan
            Infeksi toksoplasmosis adalah infeksi yang disebabkan oleh penyakit infeksi protozoa yang disebabkan oleh parasit intra sel toxoplasma gondii. Protozoa ini banyak terdapat pada anjing,kucing,tikus dan binatang lainnya. Protozoa ini dapat menular melalui makanan mentah,atau kurang masak yang tercemar ekskreta kucing yang terinfeksi. Seekor kucing dapat mengeluarkan sampai 10 juta butir ookista sehari selama 2 minggu. Ookista menjadi matang dalam waktu 1-5 hari dan dapat hidup lebih dari setahun di tanah yang panas dan lembab.
Pengaruh infeksi toksoplasmosis terhadap kehamilan adalah abortus, partus pre maturus, dan kematian janin dalam rahim serta meniggikan kematian neonatal. Dapat terjadi cacat bawaan: hidrosefalus, mikrosefalus, anensefalus, meningo-ensefalitis dan kelainan pada mata. Bahkan bisa menyebabkan hidrops.

3.2 Saran
Dengan mengetahui toksoplasmosis, penyebab, tanda gejala,dan pencegahannya maka diharapkan pembaca dapat lebih berhati-hati dalam menjaga pola hidup sehari-hari dan menjaga pola makan
 Dan dengan membaca tentang makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan kita tentang gangguan toksoplasmosis. Kritik dan saran sangat kami harapkan untuk kesempurnaan makalah kami ini di masa yang akan datang.



DAFTAR PUSTAKA

Sinopsis obstetri: obstetri fisiologi, obstetri patologi/ Rustam Mochtar, Delfi Lutan, Ed 2 – Jakarta: EGC,1998.
Ilmu kebidanan, Sarwono Prawirohardjo / editor ketua, Abdul Bari Saifuddin, editor, Trijatmo Rachimhadhi, Gulardi H. Wiknjosastro, Ed 4, Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo, 2008.
Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan / ida Bagus Gde Manuaba-jakarta: EGC, 1998.
Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal  Dan Neonatus/editor, abdul Bari Saifudin, George Adriaansz, Gulardi Hanifa Wiknjosastro, Djoko Waspodo-Ed 1-Jakarta: yayan bina pustaka sarwono Prawirohardjo, 2006.
Buku ajar asuhan kebidanan/ oleh Helen Varney, jan M. Kriebs, Carolyn L. Gegor; alih bahasa, ana lusiyana, Jakarta : EGC, 2006.



Persiapan Membuka BPM

MEMBUKA BIDAN PRAKTEK MANDIRI

*      Saat saya memiliki kesempatan untuk membuka BPM yang akan saya lakukan supaya BPM saya memenuhi SPK yaitu dengan memenuhi persyaratan pendirian BPM, memenuhi syarat bangunan, menerapkan analisis SWOT, memiliki perijinan (SIPB), melengkapi adminisrasi, kelengkapan, sarana dan prasarana BPM, memiliki perlengkapan asuhan bayi rooming-in/rawat gabung dan memberikan pelayanan yang berkualitas.

1.      Pengertian BPM
Bidan Praktek Mandiri ( BPM ) merupakan bentuk pelayanan kesehatan di bidang kesehatan dasar. Praktek bidan adalah serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan kepada pasien (individu, keluarga, dan masyarakat) sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya. Bidan yang menjalankan praktek harus memiliki Surat Izin Praktek Bidan (SIPB) sehingga dapat menjalankan praktek pada saran kesehatan atau program. (Imamah, 2012:01)

Bidan Praktek Mandiri memiliki berbagai persyaratan khusus untuk menjalankan  prakteknya, seperti tempat atau ruangan praktek, peralatan, obat – obatan. Namun pada kenyataannya BPM sekarang kurang memperhatikan dan memenuhi kelengkapan praktek serta kebutuhan kliennya. Di samping peralatan yang kurang lengkap tindakan dalam memberikan pelayanan kurang ramah dan bersahabat dengan klien. Sehingga masyarakat berasumsi bahwa pelayanan kesehatan bidan praktek mandiri tersebut kurang memuaskan.      ( Rhiea, 2011 : 01)

Praktek pelayanan bidan mandiri merupakan penyedia layanan kesehatan, yang memiliki kontribusi cukup besar dalam memberikan pelayanan, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak. Supaya masyarakat pengguna jasa layanan bidan memperoleh akses pelayanan yang bermutu, perlu adanya regulasi pelayanan praktek bidan secara jelas persiapan sebelum bidan melaksanakan pelayanan praktek seperti perizinan, tempat, ruangan, peralatan praktek, dan kelengkapan administrasi semuanya harus sesuai dengan standar.

2.      Persyaratan Pendirian Bidan Praktek Mandiri
1. Menjadi anggota IBI
2. Permohonan Surat Ijin Praktek Bidan selaku Swasta Perorangan
3. Surat Keterangan Kepala Puskesmas Wilayah Setempat Praktek
4. Surat Pernyataan tidak sedang dalam sanksi profesi/ hukum.
5. Surat Keterangan Ketua Ranting IBI Wilayah
6. Persiapan peralatan medis dan medis usaha praktek bidan secara perorangan dengan pelayanan   pemeriksaan pertolongan persalinan dan perawatan.
7. Membuat Surat Perjanjian sanggup mematuhi perjanjian yang tertulis.
8.  Bidan dalam menjalankan praktek harus :
a.    Memiliki tempat dan ruangan praktek yang memenuhi persyaratan kesehatan.
b.    Menyediakan tempat tidur untuk persalinan minimal 1 dan maksimal 5 tempat tidur.
c.   Memiliki peralatan minimal sesuai dengan ketentuan dan melaksanakan prosedur tetap (protap) yang berlaku.
d.   Menyediakan obat-obatan sesuai dengan ketentuan peralatan yang berlaku.
9.   Bidan yang menjalankan prakytek harus mencantumkan izin praktek bidannya atau foto copy prakteknya  diruang praktek, atau tempat yang mudah dilihat.
10.   Bidan dalam prakteknya memperkerjakan tenaga bidan yang lain, yang memiliki SIPB untuk membantu tugas pelayanannya
11.  Bidan yang  menjalankan praktek harus harus mempunyai peralatan minimal sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan peralatan harus tersedia ditempat prakteknya.
12.  Peralatan yang wajib dimilki dalam menjalankan praktek bidan sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan .
13. Dalam menjalankan tugas bidan harus serta mempertahankan dan meningkatkan keterampilan profesinya antara lain dengan :
a.    Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan atau saling tukar informasi dengan sesama bidan .
b.    Mengikuti kegiatan-kegiatan akademis dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya, baik yang diselenggarakan pemerintah maupun oleh organisasi profesi.
c.    Memelihara dan merawat peralatan yang digunakan untuk praktek agar tetap siap dan berfungsi dengan baik.

3.      Selain itu harus memenuhi persyaratan bangunan yang meliputi :
a.       Papan nama
1.      Untuk membedakan setiap identitas maka setiap bentuk pelayan medik dasar swasta harus mempunyai nama tertentu, yang dapat diambil dari nama yang berjasa dibidang kesehatan, atau yang telah meninggal atau nama lain yang sesuai dengan fungsinya.
2.      Ukuran papan nama seluas 1 x 1,5 meter.
3.      Tulisan blok warna hitam, dan dasarnya warna putih.
4.     Pemasangan papan nama pada tempat yang mudah dan jelas mudah terbaca oleh masyarakat .
b.      Tata ruang
1.      Setiap ruang priksa minimal memiliki diameter 2 x 3 meter.
2.     Setiap bangunan pelayanan minimal mempunyai ruang priksa, ruang adsministrasi/kegiatan lain sesuai kebutuhan, ruang tunggu, dan kamar mandi/WC masing-masing 1 buah.
3.      Semua ruangan mempunyai ventilasi dan penerangan/pencahayaan.
c.       Lokasi
1.   Mempunyai lokasi tersendiri yang telah disetujui oleh pemerintah daerah setempat (tata kota), tidak berbaur dengan kegiatan umum lainnya seperti pusat perbelanjaan, tempat hiburan dan sejenisnya.
2.   Tidak dekat dengan lokasi bentuk pelayanan sejenisnya dan juga agar sesuai fungsi sosialnya yang salah satu fungsinya adalah mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
d.   Hak dan Guna Pakai
1. Mempunyai surat kepemilikan (Surat hak milik / surat hak guna pakai)
2.  Mempunyai surat hak guna (surat kontrak bangunan) minimal 2 tahun.

4.  Menerapkan Analisis SWOT
a. Strength (Kekuatan)
·  Telah menyelesaikan program SI Kebidanan
·  Pengetahuanbaiktekhnismaupun non tekhnis, anatara lain :
1.      Asuhan persalinan normal
2.      LSS
3.      Diklat jarak jauh bidan
4.      Keluarga berencana
5.      Insersi IUD
6.      Pemasangan AKBK
7.      Pelatihan penanganan HIV AIDS
8.      Pelatihan isu gender
9.      Pelatian kesehatan reproduksi
· Memiliki wajah yang menarik
· Memiliki solidaritas yang tinggi
· Pandai bersosialisasi
· Memiliki rasa humor
· Kreatif dan inovatif
· Ramah dan santun



b. Weakness (Kelemahan)
· Sensitif
· Berbicara spontan apa adanya, terkadang tanpa mempedulikan perasaan orang lain
· Pelupa

c. Opportunities (peluang)
· Bidan praktek swasta yang ada relatif sedikit
· Setelah dianalisis pelayanan sebagian bidan di daerah itu kurang memuaskan khususnya dalam bidang kepuasan pelanggan
·  Bidan-bidan senior kurang bisa meningkatkan kreatifitas sehingga terlihat monoton

d. Threats (ancaman)
·  Adanya persaingan yang tidak sehat
Persyaratan  menurut KEPMENKES RI NO. 900/MENKES/SK/VII/2002
1.      Bidan dalam menjalankan prakteknya harus:
·         Memiliki tempat dan ruangan praktek yang memenuhi persyaratan kesehatan
·         Menyediakan tempat tidur untuk persalinan, minimal 1 dan maksimal 5 tempat tidur
·         Memilki peralatan minimal sesuai dengan ketentuan dan melaksanakan prosedur tetap (protap) yang berlaku.
·         Menyediakan obat-obatan sesuai dengan ketentuan peralatan yang berlaku
2. Bidan yang menjalankan praktek harus mencantumkan izin praktek bidannya atau fotocopy izin prakteknya di ruang praktek, atau tempat yang mudah dilihat.
3.  Bidan dalam prakteknya menyediakan lebih dari 5 tempat tidur, harus memperkerjakan tenaga bidan yang lain, yang memiliki SIPB untuk membantu tugas pelayanannya.
4. Bidan yang menjalankan praktek harus mempunyai peralatan minimal sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan harus tersedia di tempat prakteknya
5.  Peralatan yang wajib dimiliki dalam menjalankan praktek bidan sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan
6.  Dalam menjalankan tugas bidan harus senantiasa mempertahankan dan meningkatkan keterampilan profesinya antara lain dengan:
·         Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan atau saling tukar informasi dengan sesama bidan
·         Mengikuti kegiatan-kegiatan akademis dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh organisasi profesi
·         Memelihara dan merawat peralatan yang digunakan untuk praktek agar tetap siap dan berfungsi dengan baik

5.      Memiliki Surat Perijinan
SIPB dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota yang seterusnya akan disampaikan laporannya kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat dengan tembusan kepada organisasi profesi setempat.

6. Kelengkapan Administrasi, Peralatan, Sarana dan Prasarana BPM
1.  Administrasi
a.   Memiliki papan nama bidan praktek swasta
b.   Mempunyai SIPB dan masih berlaku
c.   Ada visi dan misi
d.   Ada falsafah
e.   Memiliki buku standar pelayanan kebidanan
f.   Ada buku pelayanan KB
g.   Ada buku standar pelayanan kebidanan neonatal
h.  Ada buku register pasien
i.   Ada format catatan medic
1)  Antenatal
2)  Persalinan
3)  Nifas
4)  Bayi Baru Lahir
5)  Keluarga Berencana
6)  Bayi Sehat
7)  Rujukan
8)   Laporan
9)   Surat Kelahiran
10)  Surat Kematian
11)  Partograf
12)  Informed Consent
13)  Formulir Permintaan Darah

2.      Peralatan dan Obat –Obatan
a.       Peralatan Tidak Stseril
§  Tensimeter
§  Stetoskop biokuler
§  Stetoskop monokuler
§  Timbangan dewasa
§  Timbangan bayi
§  Pengukuran panjang bayi
§  Thermometer
§  Oksigen dalam regulator
§  Ambu bag dengan masker resusitasi (ibu+bayi)
§  Penghisap lendir
§  Lampu sorot
§  Penghitung nadi
§  Sterilisator
§  Bak instrument dengan tutup
§  Reflek Hammer
§  Alat pemeriksaan Hb (Sahli)
§  Set pemeriksaan urine (protein + reduksi)
§  Pita pengukur
§  Plastik penutup instrument steril
§  Sarung tangan karet untuk mencuci alat
§  Apron / celemek
§  Masker
§  Pengaman mata
§  Sarung kaki plastik
§  Infus set
§  Standar infuse
§  Semprit disposable
§  Tempat kotoran / sampah
§  Tempat kain kotor
§  Tempat plasenta
§  Pot
§  Piala ginjal / bengkok
§  Sikat, sabun dan tempatnya
§  Kertas lakmus
§  Semprit glyserin
§  Gunting verband
§  Spateln lidah
§  IUD kit
§  Implant kit
§  Covis
§  Suction
§  Gergaji implant

b.      Peralatan Steril
§  Klem pean
§  Klem ½ kocher
§  Korentang
§  Gunting tali pusat
§  Gunting benang
§  Gunting episiotomy
§  Kateter karet  / metal
§  Pinset anatomis
§  Pinset chirurgic
§  Speculum vagina
§  Mangkok metal kecil
§  Pengikat tali pusat
§  Pengisap lendir
§  Tampon tang dan tampon vagina
§  Pemegang Jarum
§  Jarum kulit dan otot
§  Sarung tangan
§  Benang suter + catgut
§  Doek steril

c.       Bahan Habis Pakai
§  Kapas
§  Kain kasa
§  Plester
§  Handuk
§  Pembalut wanita

d.      Formulir Yang Disediakan
§   Formulir Informed Consent
§   Formulir ANC
§   Partograf
§   Formulir persalinan / nifas dan KB
§   Formulir rujukan
§   Formulir surat kelahiran
§   Formulir permintaan darah
§   Formulir kematian

e.       Obat - Obatan
§  Roborantia
§  Vaksin
§  Syok anafilak
-       Adrenalin 1:1000
-       Anti histamine
-       Hidrokortison
-       Aminophilin 230 mg / 10ml
-       Dopamine
§  Sedatife
§  Antibiotik
§  Uterotonika
§  Antipiretika
§  Koagulantika
§  Anti kejang
§  Glyserin
§  Cairan infuse
§  Obat luka
§  Cairan desinfektan
§  Obat penanganan asphiksia pada BBL

3.      Sarana Dan Prasarana Asuhan Rooming-In / Rawat Gabung
a. Media Penyuluhan Kesehatan
1.  Ada poster di dinding
-       Pesan-pesan ASI Ekslusif
-       Pesan Immunisas
-       Pesan Vitamin A
-       Persalinan
-       Tanda Bahaya
2. Ada leaflet
3. Ada booklet
4. Ada majalah bidan
5. dan lainnya
b. Sarana
1.      Rumah terbuat dari tembok
2.      Lantai keramik
3.      Ruang tempat periksa
4.      Ruang perawatan
5.      Dapur
6.      Kamar mandi
7.      Ruang cuci pakaian/alat
8.      Ruang tunggu
9.      Wastafel
10.  Tempat sampah
11.  Tempat parker



7.       Pelayanan yang Diberikan Bidan Praktek Mandiri
Dalam bidan praktek mandiri memberikan pelayanan yang meliputi :
1.         Penyuluhan Kesehatan
2.         Konseling KB
3.         Antenatal Care (senam hamil, perawatan payudara)
4.         Asuhan Persalinan
5.         Perawatan Nifas (senam nifas)
6.         Perawatan Bayi
7.         Pelayanan KB ( IUD, AKBK, Suntik, Pil )
8.         Imunisasi ( Ibu dan Bayi )
9.         Kesehatan Reproduksi Remaja

10.     Perawatan Pasca Keguguran.

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE PADA DEWASA A.      DEFINISI ·          Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau t...